Ego musyawarah
-(Minggu, 28 Desember 2025)-
Ketika pikiran fokus mencari solusi, solusi itu biasanya akan ketemu. Ini pengalaman yang barangkali bukan hanya milik saya, tetapi juga sebagian orang lain—meski saya pun tak berani memastikannya sebagai hukum semesta.
Mungkin ini yang kerap disebut sebagai kekuatan pikiran: ketika diarahkan pada satu masalah, pikiran menemukan jalur kreatifnya sendiri. Dan ketika bukan hanya satu otak yang bekerja, melainkan beberapa, segalanya menjadi lebih cepat—melalui yang kita kenal sebagai brainstorming. Sebuah ledakan ide yang, menariknya, sering kali lebih efektif daripada ledakan emosi.
Di titik itulah diskusi menjadi penting. Banyak sudut pandang yang muncul, yang barangkali luput dari sudut saya sendiri, atau dari sudut siapa pun yang merasa paling benar. Dari sana, pemecahan masalah terasa lebih komprehensif—setidaknya di atas kertas.
Namun, diskusi juga meninggalkan residu yang tak pernah tercatat di notulen. Ada kecewa ketika ide tak diterima. Ada pongah ketika ide disambut tepuk tangan. Diskusi, alih-alih murni mencari solusi, kerap berubah menjadi panggung aktualisasi: ajang manusia menampilkan dirinya, bukan menampilkan jawabannya.
Lalu muncul pertanyaan yang klise, tetapi keras kepala: mengapa saya harus tunduk pada hasil musyawarah jika saya merasa keputusan itu keliru?
Di sinilah ego manusia diuji. Dan mungkin juga terbukti—sekali lagi: mungkin—bahwa manusia memang egois. Bukan karena jahat, tetapi karena evolusi mewariskannya begitu. Leluhur kita bertahan hidup dengan menang, bukan dengan mengalah. Maka, sinergi dan win-win solution akhirnya digaungkan, bukan karena manusia otomatis ingin rukun, tetapi justru karena manusia tidak otomatis ingin rukun. Ia perlu diingatkan. Ia perlu diarahkan. Ia perlu, barangkali, dilawan dari dalam.
Dan ironisnya, saya sendiri pun membuat simpulan itu dengan sedikit ego: bahwa manusia egois, sehingga perlu dilatih melawannya. Anda boleh saja tak setuju. Saya pun, kalau ada yang menantang premis saya, mungkin juga akan tergagap menjelaskan argumennya.
Artinya, saya dan Anda pun bisa berbeda—seperti halnya orang-orang dalam diskusi. Keputusan bulat? Jarang ada. Kalau pun ada, bisa jadi hanya di permukaan. Selebihnya, selalu ada bara dalam sekam. Dan justru di situlah kehebatan manusia: ego yang sama yang membuatnya ingin menang, juga membuatnya mampu menahan diri agar tidak meledak. Meredam diri, bukan karena ia telah sepenuhnya damai, tetapi karena ia sadar: ledakan ego hanya menghancurkan panggung tempat ia ingin bersinar.