Ritual pagi
-(Sabtu, 20 Desember 2025)-
Hampir lima menit saya masih belum menemukan ide untuk memulai ritual pagi saya: menulis. Saya rebahan di kursi panjang dengan sandaran leher dan kepala, sementara tangan—seperti kebiasaan manusia hari ini—memegang smartphone, sekaligus sebagai alat tulis saya.
Mengklaim diri telah memiliki kebiasaan rutin harian menulis ternyata berhadapan dengan sebuah paradoks. Setiap kali hendak memulai menulis, saya kerap dihadapkan pada kebingungan: menulis apa. Ide terasa habis tepat di saat ia paling dibutuhkan.
Rasanya semua bidang yang saya kuasai sudah pernah saya tulis. Karena itu, saya memutuskan untuk memulai dengan berkeluh kesah atas apa yang sedang saya hadapi. Tentang hal ini pun sebenarnya sudah pernah saya tulis. Bahwa ketika bertemu kebuntuan, biarkan saja tangan terus mengetik kata demi kata, hingga nanti—entah dari mana—ide itu muncul di dalam pikiran.
Namun pagi ini, momen kejutan itu belum juga terwujud. Gagasan masih belum datang. Padahal suara azan subuh telah berkumandang. Dan nampaknya saya mesti segera mengakhiri kebuntuan menulis ini: mengambil air wudhu dan bersiap berangkat ke mushola.
Sholat subuh berjamaah juga merupakan ritual pagi saya. Selain mengingat pahala dan anjuran Nabi SAW, barangkali ritual ini membuat pikiran dan diri saya menjadi lebih tenang. Ia seperti mekanisme yang secara halus bekerja di dalam diri manusia untuk menghadirkan rasa makna. Sebuah teknologi batin, barangkali. Saya merasa pernah membaca gagasan semacam ini dari seorang ahli neurosains—semoga saya tidak keliru mengingatnya.
Menariknya, justru ketika hendak berhenti, saya mulai menemukan arah gagasan tulisan ini. Namun saya mesti benar-benar berhenti sejenak. Saya akan melanjutkannya setelah sholat subuh, dan juga setelah tilawah Al-Qur’an. Keduanya adalah bagian dari ritual pagi saya. Ketika salah satunya terlewat, selalu ada rasa kurang yang sulit dijelaskan sepanjang hari.
Begitulah, sebuah teknologi bernama ritual tampaknya tercipta seiring evolusi kognitif manusia. Ia memberi struktur, ketenangan, dan makna pada hidup yang sering kali terasa acak. Semoga kalimat terakhir ini pun tidak keliru.