Romantisisme healing
-(Rabu, 3 Desember 2025)-
Beberapa tahun lalu, muncul istilah healing dan kemudian menjadi viral. Banyak orang mengucapkan kata itu ketika mereka akan atau sedang menikmati hidupnya. Bisa jadi mereka piknik ke satu tempat, seperti pantai atau pegunungan, atau sedang menikmati kuliner di sebuah resto, kafe, maupun warung.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Saya menduga, healing kemudian seolah menjadi salah satu kebutuhan manusia agar hidupnya merasa senang dan bahagia. Barangkali pula, ada sebagian orang yang melakukan healing karena dorongan FOMO melihat orang lain tengah liburan. Internet dan media sosial telah menjadi sarana efektif yang menyebarkan narasi healing ini.
Narasi itu cukup jelas: bahwa untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan, manusia perlu healing. Ini barangkali yang disebut romantisisme—gagasan bahwa kebahagiaan harus dirayakan dalam bentuk liburan atau konsumsi pengalaman. Apalagi dengan budaya pamer atau mencari validasi melalui medsos, narasi ini terlanjur tumbuh subur dan berkembang seolah menjadi kebutuhan pokok manusia.
Pada titik inilah kapitalisme melihat peluang. Apalagi ini ditangkap kapitalis untuk mencari keuntungan. Atau jangan-jangan pada awalnya kalangan merekalah yang menyuarakan narasi healing ini. Ketika romantisisme bertemu konsumerisme, lengkap sudah persenyawaan yang menjadi gerakan kalangan kapitalis. Kolaborasi ini sungguh menarik dan berpotensi besar untuk mengeruk keuntungan.
Mereka yang ingin healing, telah disediakan tempat melalui industri pariwisata. Asalkan mereka bisa bayar, semuanya bisa dinikmati: barang dan jasa healing yang dikemas sebagai jalan menuju kebahagiaan. Healing pun berubah dari pemulihan psikis menjadi produk gaya hidup; bukan lagi kebutuhan batin, tapi tuntutan sosial.
Pada akhirnya, ujung dari narasi healing adalah upaya dukungan bagi konsumerisme. Ia menjadi pisau bermata dua: satu sisi cukup tajam menggerakkan ekonomi dan membuka peluang usaha; namun sisi lain sama tajamnya menggerus tabungan dan psikis manusia. Banyak orang merasa harus healing untuk membuktikan bahwa dirinya bahagia—setidaknya di mata audiens media sosial.
Pertanyaan pun muncul: apakah healing benar-benar menyembuhkan? Atau justru menghadirkan luka baru berupa tekanan sosial dan beban finansial yang tidak pernah putus?
Ironisnya, upaya mencari bahagia bisa menjauhkan manusia dari makna kebahagiaan itu sendiri. Justru ketika kebahagiaan dikomodifikasi, manusia semakin rentan tersesat dalam pencarian yang tidak pernah selesai.