Pemimpin melayani
-(Jumat, 12 Desember 2025)-
Barangkali inilah salah satu daya tarik menjadi pemimpin atau pejabat: penghormatan yang selalu menyertai jabatan. Pada setiap acara seremonial atau formal, para pemimpin ditempatkan di barisan depan, seolah kedatangan mereka adalah pusat perhatian. Ajudan, protokoler, dan humas mengiringi langkah mereka, memastikan setiap detik terdokumentasi, seakan keberadaan mereka harus terus dibuktikan.
Dalam setiap sambutan, nama para pemimpin dan pejabat diulang-ulang sebagai bentuk penghormatan. Pengulangan itu bukan hanya formalitas, tetapi juga penegasan eksistensi—seolah menempatkan mereka pada derajat yang lebih tinggi dari manusia lainnya.
Barangkali memang demikian bentukan kehidupan manusia: selalu ada yang ditinggikan. Budaya, tradisi, atau tafsir keagamaan kerap membentuk struktur penghormatan yang hierarkis. Padahal, dalam pandangan Tuhan, kemuliaan bukan ditentukan oleh posisi, melainkan oleh ketakwaan.
Dalam sistem demokrasi, rakyat sejatinya adalah pemegang kekuasaan. Mereka memilih pemimpin bukan untuk diagungkan, tetapi untuk bertanggung jawab kepada rakyat. Pemimpin diangkat untuk bekerja bagi rakyat, bukan untuk membebani mereka. Namun dalam banyak acara seremonial, yang tampak justru kontras: kehadiran pemimpin sering merepotkan banyak orang karena berbagai pengaturan, keamanan, dan protokol yang harus dipenuhi.
Saya membayangkan sebuah keadaan yang terbalik dari kebiasaan. Bagaimana jika pemimpin atau pejabat duduk di belakang, sementara rakyat diberi panggung di depan? Bagaimana jika suara rakyat yang lebih ditonjolkan, bukan petuah pemimpin? Mungkin rakyat tidak menunggu nasihat yang berjarak, melainkan pelayanan yang nyata.
Jika demikian, sudah saatnya paradigma tentang pemimpin dan pejabat berubah. Bukan lagi zamannya pemimpin menuntut penghormatan. Justru merekalah yang harus lebih dulu memberi hormat melalui pelayanan. Karena hakikat kepemimpinan bukan terletak pada kehormatan yang diterima, tetapi pada pengabdian yang diberikan.