Harmoni subuh
-(Kamis, 4 Desember 2025)-
Ketika saya pulang dari langgar (mushola) timur pada suatu subuh, dari langgar utara terdengar imam sedang membaca satu surat. Entah itu bacaan rakaat pertama atau kedua. Namun yang pasti, sholat subuh di sana baru saja berlangsung. Padahal di langgar timur, sholat sudah selesai, bahkan dzikir bersama hingga bacaan “Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x” telah rampung tuntas.
Perbedaan waktu dimulainya pelaksanaan sholat subuh ini tentu tidak menjadi soal bagi para jamaah masing-masing. Mereka telah menyesuaikan diri dengan jadwal yang berlaku. Namun bagi saya, perbedaan ini justru menjadi keuntungan tersendiri.
Manakala saya bangun agak terlambat, saya masih punya kesempatan untuk datang ke langgar utara yang jadwalnya sedikit lebih mundur. Sementara ketika saya bangun lebih awal dan ingin memiliki waktu longgar selepas subuh, saya bisa memilih ke langgar timur yang lebih cepat memulai.
Start yang berbeda dalam dimulainya pelaksanaan sholat subuh itu setidaknya dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, tradisi dzikir dan doa selepas azan dan sebelum sholat berjamaah. Lafal serta panjang bacaan dari kedua langgar itu berbeda. Langgar utara memang lebih panjang dibandingkan langgar timur.
Sebab kedua adalah kesiapan imam sholat. Nampaknya imam langgar timur telah siap sejak azan subuh dikumandangkan. Sementara imam langgar utara baru datang ketika pelantunan dzikir sebelum sholat sudah dimulai. Selisih yang terlihat sederhana, namun cukup menentukan ritme ibadah berjamaah.
Begitulah. Nampaknya segala sesuatu memang tak bisa sama. Meski kedua langgar itu bermazhab sama dan berada dalam wilayah yang berdekatan. Perbedaan itu tidak menjadi masalah karena masing-masing memiliki wilayah dan jamaahnya sendiri. Masalah justru muncul apabila satu langgar memaksakan apa yang menjadi kebiasaannya agar berlaku di langgar lain.
Bagaimanapun, sebuah harmoni justru dibangun dari adanya perbedaan. Rasa tidak nyaman ketika melihat orang lain berbeda memang sudah menjadi kodrat manusia. Namun sejauh mana kita mampu mengelola ketidaknyamanan itu, di situlah kedewasaan berpikir dan keluasan wawasan diuji. Karena pada akhirnya, keseragaman tidak selalu menciptakan kedamaian — tetapi penghormatan pada perbedaan pasti menumbuhkan harmoni.