Meditasi menulis

-(Sabtu, 27 Desember 2025)-

Saya merasa kebiasaan menulis setiap hari telah memberi manfaat bagi saya. Setidaknya, saya menjadi lebih lancar ketika harus berbicara spontan di depan forum. Cukup dengan satu gagasan, pikiran dan mulut saya bisa lumayan mengalirkan kalimat-kalimat. Meski, terus terang saja, saya tidak selalu tahu apakah kalimat-kalimat itu benar-benar dipahami oleh audiens.

Barangkali saya hanya sedang asyik dengan pikiran sendiri. Karena itu pula, saya merasa masih perlu terus belajar. Spontan saja ternyata belum cukup. Ia tetap perlu ditopang oleh gagasan yang segar dan, kalau bisa, bernas.

Namun, memiliki target menulis setiap hari juga kadang berubah menjadi beban. Hampir setiap hari saya memikirkan hal yang sama: tema apa lagi yang akan saya tulis. Ini tidak sesederhana kelihatannya. Barangkali persis seperti membiasakan diri berolahraga, apalagi angkat beban. Di awal terasa berat. Tetapi setelah dijalani, semuanya terasa lebih ringan. Menulis pun begitu. Kesulitan sering kali hanya ada di permulaan—pada kalimat atau paragraf pembuka. Setelah itu, tangan seolah enggan berhenti.

Bahkan, ada kalanya rasa ingin ke kamar kecil saya tahan lebih lama, hanya demi menuntaskan satu tulisan. Saat itu pikiran seperti berkata: mumpung otak sedang menyala. Segalanya terasa mengalir, mudah, dan nyaris tanpa hambatan.

Dari pengalaman itu, saya mulai menduga bahwa banyak hal terasa berat hanya karena kita masih berada di titik awal. Setelah berjalan, prosesnya justru bisa menghadirkan kesenangan tersendiri. Mungkin karena ketika menulis, pikiran menjadi lebih fokus. Ia berhenti melompat ke sana kemari, tak tentu arah. Dengan memusatkan perhatian pada tulisan, saya merasa lebih hadir pada momen kini—alih-alih terseret ke masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Soal hidup di masa lalu dan masa depan akibat ulah pikiran ini sebenarnya terdengar klise bagi saya. Terlalu sering saya mengulangnya dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Namun boleh jadi, justru di situlah problem terbesar manusia. Pikiran yang sulit diawasi kerap menyeret kita pada kegelisahan, bayangan buruk, dan rasa cemas yang tak perlu. Dan ironisnya, semua itu sering kali lahir dari pikiran kita sendiri.

Mungkin, menulis bisa menjadi semacam jalan meditasi. Bukan untuk mengendalikan pikiran—karena kata itu terasa terlalu ambisius—melainkan untuk mengawasinya. Membiarkan pikiran bergerak, sambil tetap disadari, tanpa pretensi untuk diarahkan ke mana-mana.

Di titik ini, tulisan saya mulai terasa agak ngawur. Terutama ketika saya menyebut meditasi. Barangkali rumusan saya tidak tepat. Bahkan bisa jadi keliru. Tidak apa-apa. Setidaknya saya mencoba mengatakannya dengan kalimat saya sendiri.

Dan begitulah. Idealnya, kebiasaan menulis setiap hari memang membantu saya merumuskan banyak hal dengan bahasa saya sendiri. Meski saya pun sadar, keyakinan itu mudah berubah menjadi kesombongan kecil. Pada akhirnya, sebagai manusia, kita selalu dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam menulis, pengaruh itu jelas datang dari bacaan-bacaan yang masuk ke dalam pikiran—diam-diam membentuk cara saya berpikir dan memilih kata.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"