Dua kata

-(Senin, 22 Desember 2025)-

Mari kita buktikan salah satu teknik menulis kreatif yang diajarkan oleh seorang novelis dalam salah satu karya bukunya. Buku ini saya temukan di sebuah situs perpustakaan daring tempat saya mendaftar sebagai anggota.

Melalui perpustakaan itu, saya bisa membaca buku-buku yang beberapa di antaranya sudah lama saya cari dan ingin saya baca. Nampaknya ini menjadi sebuah keberuntungan bagi saya. Dalam urusan membaca, saya memang lebih sering berkunjung ke perpustakaan daripada ke toko buku.

Dalam buku tersebut, penulis mengajarkan satu teknik membuat cerita mini yang dimulai dengan dua kata sebagai pemantik. Misalnya: subuh + ekonomi.

Paragraf apa yang bisa kita susun dari dua kata itu? Ketika kita berhasil menyusunnya, ia akan menjadi sebuah alinea yang berisi cerita. Barangkali alinea itu bisa menjadi seperti di bawah ini.

Sebelum subuh aku sudah terbangun tanpa lagi ada alarm yang berbunyi. Ini sudah terjadi beberapa minggu sejak aku memutuskan untuk tak lagi memasang alarm di HP-ku. Aku melakukan ini semata-mata agar tubuh punya kesadaran dan kebiasaan dari dalam, bukan dipicu sesuatu dari luar tubuhku. Pun dengan kondisi ekonomi saat ini. Meski katanya ekonomi selalu dipengaruhi oleh situasi global, membuat ekonomi kembali bertahan dengan mengandalkan faktor internal dalam negeri akan menjadi lebih baik. Alasannya, faktor internal lebih mudah dikendalikan dibandingkan faktor eksternal. Hal ini bisa dimulai dari bagaimana kita tak perlu terlalu risau dan terus mengulang-ulang alasan serta pembenaran bahwa ekonomi dipengaruhi oleh gejolak global. Dulu, ini sering kali kita dengar setiap kali pejabat yang berwenang berbicara dalam forum-forum resmi, yang kemudian banyak pihak ikut-ikutan latah dan menjadikan gejolak global sebagai permakluman atas target ekonomi yang tak tercapai.

Wah, ternyata hasilnya bisa sepanjang itu. Padahal sebenarnya tulisan tersebut tidak layak dibuat dalam satu paragraf. Barangkali hasil tulisan itu seharusnya terbagi ke dalam dua atau tiga alinea.

Sebenarnya, contoh yang diberikan oleh penulis buku itu tidak seperti itu. Tentu jauh lebih bagus daripada yang saya hasilkan, karena ia menggunakan pola pikir persilangan, asosiasi, dan oposisi. Dari dua kata itu dilakukan pengembangan melalui tiga teknik tersebut. Sementara contoh yang saya tulis hanyalah tulisan mengalir yang sekadar memastikan dua kata—subuh dan ekonomi—hadir di dalamnya.

Oleh karena itu, nampaknya saya mesti melihat dan membaca kembali satu halaman contoh yang penulis berikan. Setelah itu, saya akan mempraktikkan kembali contoh tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Kenyataannya, dengan teknik pemicu dua kata dalam menulis ini, kini saya tak perlu terlalu takut kehabisan ide atau gagasan. Teknik tersebut bisa menjadi modal untuk menghadapi momen-momen writer’s block.

Begitulah. Meski saya mengklaim diri sebagai penulis, bukan berarti saya berhenti belajar menulis. Bagaimanapun, setiap penulis kadang menghadapi momen buntu. Dan ketika itu terjadi, kita membutuhkan solusi—sebuah pemantik—agar tangan dan pikiran kembali lancar mengetikkan kata demi kata di layar.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"