Persepsi ekonomi
-(Senin, 15 Desember 2025)-
Mari kita membayangkan sebuah simulasi sederhana tentang aktivitas ekonomi.
Sebut saja tokohnya bernama Fulan. Ia seorang yang kaya—mungkin juga seorang kapitalis. Portofolio investasinya beragam: saham, reksadana, SBN, deposito, properti, emas, bahkan kripto. Prinsip don’t put your eggs in one basket ia pegang kuat-kuat sebagai fondasi pengelolaan kekayaannya.
Dalam kenyataannya, aktivitas ekonomi setiap orang selalu dipengaruhi oleh persepsinya terhadap masa depan. Ketidakpastian ekonomi global, potensi bencana, paparan konten yang kerap menyudutkan kinerja pemerintah, serta gejolak harga emas dan nilai tukar rupiah, membentuk cara pandang Fulan dalam mengambil keputusan. Ia pun berpikir keras tentang bagaimana terus mengamankan aset dan investasinya. Ketika memperoleh keuntungan dari penjualan saham atau instrumen lain, uang itu tidak ia gunakan untuk konsumsi, melainkan dialihkan untuk membeli emas. Ia ingin memiliki cadangan nilai yang ia anggap paling aman.
Sebagai orang yang memiliki banyak uang, Fulan tentu ingin hidup sehat dan menjaga tubuhnya tetap bugar serta menarik. Karena itu ia rajin berolahraga dan memilih makanan yang sehat. Ia lebih sering mengonsumsi makanan hasil olahan sendiri, dan jarang makan di warung atau restoran, yang menurutnya cenderung menyajikan makanan dengan komposisi karbohidrat tinggi.
Untuk terus menumpuk kekayaannya—dan sebagaimana pola umum perilaku orang kaya—Fulan pada dasarnya juga tidak gemar berbelanja. Ia hanya membeli barang yang benar-benar menjadi kebutuhannya. Bahkan ia tidak suka tampil mewah di hadapan banyak orang. Ia lebih memilih berpenampilan sederhana, selama tetap nyaman dan fungsional.
Karena itu, kita bisa menebak konsekuensinya. Ia jarang berbelanja pakaian. Kalaupun berbelanja, ia memilih produk bermerek dengan kualitas tinggi dan usia pakai panjang. Dalam hal konsumsi pangan, ia lebih banyak membeli bahan mentah untuk diolah sendiri. Praktis, ia hanya sedikit berbelanja pada pelaku UMKM.
Sekarang mari kita bayangkan orang-orang seperti Fulan jumlahnya banyak. Atau bahkan, seluruh orang kaya memiliki persepsi, ekspektasi, dan perilaku ekonomi yang persis seperti yang dijalani Fulan.
Lebih jauh lagi, bayangkan pola pikir ini juga menjalar ke kelas menengah. Karena dorongan untuk menjadi kaya, ditambah ekspektasi dan persepsi yang sama, kelas menengah akan cenderung lebih banyak menabung daripada melakukan konsumsi. Padahal, kelas menengahlah yang selama ini paling aktif bertransaksi dengan UMKM. Jika mereka menahan belanja, dampaknya tentu serius.
Konsekuensi logisnya, sektor riil akan sulit bergerak. Uang yang dimiliki orang-orang kaya hanya berputar di instrumen investasi, bukan di aktivitas ekonomi sehari-hari. Kalaupun terjadi transaksi, yang berlangsung hanyalah transaksi antarsesama orang kaya, dengan sangat sedikit interaksi lintas kelas sosial.
Dampak akhirnya dapat kita prediksi: ekonomi bergerak lambat, bahkan stagnan. Bukan karena kekurangan uang, melainkan karena uang tidak beredar.
Jika demikian, apa yang mesti dilakukan pemerintah untuk mendorong ekonomi dan memastikan para orang kaya mau membelanjakan uangnya?
Jawabannya, pada akhirnya, hanya satu: pemerintah harus mampu membangun dan menjaga ekspektasi bahwa masa depan ekonomi akan cerah.
Karena itu, sudah saatnya humas pemerintah berperan lebih aktif dalam mengonter narasi-narasi negatif tentang prediksi ekonomi di tahun-tahun mendatang. Bukan untuk menutupi persoalan, melainkan untuk mencegah pesimisme berlebihan yang menggerogoti keyakinan investor dan masyarakat. Sebab ketika kepercayaan runtuh, orang memilih menyimpan uangnya. Dan ketika uang disimpan terlalu lama, ekonomi pun kehilangan denyutnya.