Selera pisang
-(Jumat, 26 Desember 2025)-
Saya tidak tahu mengapa saya sangat menyukai pisang goreng. Sebenarnya, bukan hanya yang digoreng. Direbus, dijadikan sale, diolah menjadi gethuk, atau dibikin barongko, semuanya tetap saya sukai. Mungkin memang pisang adalah salah satu makanan favorit saya—tanpa alasan yang pernah benar-benar saya pahami.
Kenyataannya, pisang adalah buah yang murah. Barangkali karena ia begitu melimpah. Hampir di mana pun di bumi Nusantara ini, pisang mudah ditemukan. Lebih hebat lagi, jenisnya beragam: pisang burung, tanduk, ambon, kepok, emas, raja, dan entah apa lagi namanya. Kekayaan yang sering kali kita anggap biasa. Padahal, selain murah dan melimpah, pisang juga menyimpan banyak manfaat kesehatan. Ia bahkan kerap disebut mampu menggantikan nasi sebagai sumber karbohidrat, lengkap dengan vitamin dan zat lain yang berguna bagi tubuh manusia.
Namun, apakah semua kelebihan itu otomatis membuat semua orang menyukai pisang? Tentu saja tidak. Saya pernah bertemu seseorang yang sama sekali tidak menyukai pisang. Bagi saya, itu terasa aneh. Mengapa? Karena saya menyukainya. Sebuah jawaban yang jelas tidak benar-benar menjawab apa-apa.
Dari sana, saya mulai bertanya-tanya: mengapa seseorang bisa tidak menyukai sesuatu yang bagi orang lain terasa begitu wajar? Pertanyaan ini sebenarnya juga bisa dibalik. Jika kita mampu menjelaskan mengapa seseorang menyukai pisang, mungkinkah dengan menegasikan alasan-alasan itu kita bisa memahami mengapa orang lain justru tidak menyukainya? Apakah logika semacam ini sahih? Saya tidak sepenuhnya tahu. Namun rasanya cukup masuk akal untuk dicoba.
Barangkali jawabannya berakar pada pengalaman masa kecil. Kebiasaan makan yang terbentuk sejak dini bisa membuat tubuh dan pikiran merasa cocok pada makanan tertentu. Selera, tampaknya, tidak lahir begitu saja; ia dibentuk perlahan oleh pengulangan. Seperti nasi dari beras. Karena ratusan, bahkan ribuan tahun manusia di negeri ini mengonsumsi beras, tubuh seolah baru merasa “makan” ketika telah menyantap nasi. Keyakinan itu kemudian diperkuat oleh narasi—bahwa makanan lain adalah tanda ketertinggalan zaman, atau lebih jauh lagi, simbol kemiskinan.
Saya ingat betul bagaimana tiwul pernah dicap sebagai makanan orang miskin. Padahal, jika ditilik kandungan karbohidratnya, ia tidak kalah dari nasi beras. Namun narasi telah terlanjur membesar, dan seperti kebanyakan narasi besar lainnya, ia memerlukan tenaga yang sama besar untuk direvisi.
Begitulah. Dari kegemaran sederhana pada pisang, saya justru sampai pada renungan tentang selera, kebiasaan, dan bagaimana manusia kerap menyukai atau menolak sesuatu bukan semata karena rasanya, melainkan karena cerita panjang yang mengiringinya. Dan mungkin, sebagaimana selera makanan, banyak hal dalam hidup kita pun terbentuk dengan cara yang serupa—diam-diam, perlahan, dan jarang kita sadari.