Godaan digital
-(Minggu, 21 Desember 2025)-
Saya hanya menduga-duga apa yang terjadi pada para pria mapan ketika usia mereka telah matang. Nampaknya, godaan dan ujian hidup itu bukannya berkurang, melainkan justru semakin bertambah—bahkan mungkin semakin kompleks. Terutama godaan yang bersumber dari alat digital ditambah selubung hawa nafsu.
Teknologi komunikasi dan media sosial telah membuat banyak orang bisa saling terhubung. Mereka bahkan dapat berkomunikasi tanpa pernah sebelumnya saling mengenal. Cukup dengan berkomentar di akun media sosial seorang tokoh, seseorang yang jauh dan bukan siapa-siapa sudah bisa berinteraksi. Tak jarang, interaksi itu berlanjut melalui fitur direct message yang tersedia di media sosial tersebut—sebuah ruang komunikasi yang lebih personal dan tertutup.
Barangkali, inilah yang juga terjadi pada para pria mapan.
Mari kita berimajinasi. Seorang pria mapan yang hidup berkecukupan, terlebih memiliki karier di perusahaan atau pemerintahan, meskipun telah berkeluarga, kerap menarik perhatian kalangan wanita. Saya tidak tahu, dan tidak ingin mengidentifikasi secara pasti, motif apa yang membuat sebagian wanita tertarik pada pria mapan tersebut. Motif itu bisa beragam, dan sering kali tidak sederhana.
Bayangan saya, beberapa wanita mulai mengikuti akun media sosial sang pria, lalu mengirim pesan pribadi dengan sapaan yang terasa akrab, seolah-olah sudah saling mengenal lama. Sapaan yang tampak ringan, namun perlahan bisa menembus batas kewaspadaan.
Tanpa pijakan nilai dan karakter yang kuat, bagaimana mungkin seorang pria tidak tergoda oleh sapaan seorang wanita yang—dari foto profilnya—terlihat masih muda, belia, dan cantik?
Ketika pesan itu diterima dan direspon, saya membayangkan proses ini akan berlanjut ke bentuk komunikasi atau interaksi lain. Arah akhirnya sering kali sudah bisa kita tebak. Bisa jadi bermuara pada urusan bisnis, promosi, penipuan atau ajakan-ajakan lain yang pada awalnya tampak wajar.
Mari kita bayangkan lebih jauh. Ternyata, yang mengirim pesan bukan hanya satu orang, melainkan beberapa wanita sekaligus. Kira-kira, apa yang akan muncul dalam benak pria mapan tersebut?
Mungkin akan tumbuh persepsi dan sugesti bahwa dirinya memang pria yang menarik—terbukti dari banyaknya wanita muda yang menghubunginya. Hal ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri, bahkan berujung pada rasa penasaran untuk melakukan sebuah petualangan asmara.
Dan ujung dari petualangan itu, kita pun sering kali sudah tahu ke mana arahnya. Tidak jarang berakhir pada kehancuran rumah tangga sang pria mapan itu sendiri. Ada yang terekspos, ada pula yang dibiarkan diam-diam dan tertutup rapat.
Begitulah, di zaman teknologi komunikasi yang semakin canggih dan kehadiran media sosial yang begitu masif, lahir pula bentuk-bentuk ujian baru bagi pria-pria mapan. Sebenarnya, hal serupa juga berlaku bagi wanita-wanita mapan. Hanya saja, kita kerap memahami bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat dan cara pengendalian diri antara dua gender ini.