Mengekor influencer
-(Sabtu, 6 November 2025)-
Hingga kini saya masih bertanya-tanya: mengapa ada orang yang menyebut dirinya “influencer”, dan mengapa pula media atau publik begitu mudah menahbiskan sejumlah orang dengan gelar itu? Jawaban paling sederhana tentu karena mereka dianggap mampu memengaruhi cara pikir, perilaku, atau gaya hidup banyak orang. Namun pertanyaan yang lebih kritis justru ini: mengapa begitu banyak orang rela dipengaruhi—bahkan menjadi pengekor—oleh mereka? Manipulasi apa yang berlangsung hingga ribuan, bahkan jutaan orang bersedia menjadi pengikut setia?
Apakah sekadar karena platform mereka ramai ditonton? Jika iya, mengapa orang-orang menontonnya sejak awal? Apakah ada celah psikologis yang mereka mainkan, kebutuhan emosional yang mereka sentuh, atau sekadar rasa ingin menjadi bagian dari arus mayoritas? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab pada akhirnya kita harus bertanya: kualitas apa yang sebenarnya ada pada diri seorang influencer hingga ia mampu menarik begitu banyak perhatian?
Padahal, jika kita menelisik lebih jauh, muncul pertanyaan lanjutan yang tak kalah penting: siapa sebenarnya orang yang disebut influencer itu? Apa latar belakangnya? Apa pendidikannya? Bagaimana mungkin ia merasa berwenang beropini tentang setiap isu yang sedang hangat? Ketika kontennya muncul setiap hari, dari mana ia memperoleh data? Apakah ia memiliki otoritas untuk menyampaikan itu semua, atau sekadar mengutip informasi dari internet—atau bahkan bertanya pada AI—lalu menyulapnya menjadi opini yang terdengar meyakinkan?
Atau jangan-jangan seluruh performanya hanyalah permainan emosi: memantik kemarahan, harapan, atau sensasi demi menaikkan engagement yang pada akhirnya bermuara pada satu hal: cuan.
Di tengah derasnya arus informasi dan opini, sikap kritis dan skeptis bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan dasar. Setiap kali kita melihat sebuah unggahan dari seseorang yang jelas bukan ahli di bidang yang ia komentari, kita seharusnya langsung paham: itu bukan fakta, melainkan opini belaka. Pertanyaannya: maukah kita dipengaruhi oleh opini dari orang yang tidak berkompeten?
Aneh, bila itu terjadi. Namun lebih aneh lagi jika kita membiarkannya tanpa bertanya.