Kipas mubazir

-(Selasa, 30 Desember 2025)-

Di kota air itu kami singgah di sebuah rumah makan panggung. Bangunan kayunya berdiri memanjang ke belakang, tepat di atas rawa. Kokoh, meski logika saya sempat bertanya: bagaimana caranya bangunan ini tidak amblas sejak dulu.

Saya sempat membayangkan, makan siang berdua dengan pemandangan air dan tumbuhan di sekeliling, ditambah angin yang berhembus sepoi-sepoi, akan menghadirkan suasana romantis. Dugaan yang wajar. Meski saya sadar, suasana romantis tidak selalu lahir dari pemandangan. Kadang ia lahir begitu saja, tanpa dekorasi.

Ada bagian lesehan di rumah makan itu, tapi kami memilih duduk di kursi. Menurut saya lebih nyaman. Dan ketika soal kenyamanan sudah dipilih, biasanya saya tidak banyak berdebat dengan pilihan lain.

Patin bakar dan itik panggang tanpa tulang kemudian datang. Dua menu khas daerah ini. Masing-masing ditemani pasangannya: lalapan untuk si patin, kuah sop untuk si itik. Teh hangat dan es jeruk pun begitu, tak mau sendirian. Dua porsi nasi dan dua jenis sambal turut meramaikan meja. Dan kami menyantapnya langsung dengan jari. Lahap, sederhana, dan tidak terlalu peduli apakah ini tampak “benar” secara etiket makan atau tidak.

Tak terasa makan dan mengobrol itu, hampir satu jam berlalu. Kami hendak pergi. Tapi sebelum itu, Dhuhur dulu.

Rumah makan itu menyediakan mushola. Seusai wudhu, kami sholat berjamaah. Sebelum mulai, saya menyalakan kipas angin yang berdiri di sudut. Selesai sholat, saya mematikannya kembali.

Dan di situlah saya berhenti sejenak. Bukan berhenti berjalan, tetapi berhenti menerima hal sebagai sesuatu yang otomatis.

Mengapa saya mematikannya?

Kalau saya biarkan menyala pun, siapa yang akan tahu? Tidak ada.

Meski itu mubazir. Tapi apakah karena mubazir, tangan saya tergerak?

Atau karena saya sudah terlanjur terbiasa mematikan apa pun yang tidak perlu tetap menyala?

Lalu pikiran saya merembet ke hal-hal lain: keran air yang dibiarkan mengalir, lampu dan AC yang menyala di ruangan kosong, tisu yang melayang keluar dari jendela mobil di jalan tol. Saya menilai semuanya itu buruk.

Bisa jadi, karena saya tidak melakukannya. Bisa jadi juga, karena memang sebagian besar orang sepakat bahwa itu perbuatan yang buruk. Meski lagi-lagi, saya tidak punya data pastinya.

Lantas saya sempat terpikir pertanyaan yang agak besar, padahal awalnya hanya soal kipas: bagaimana membuat semua orang punya kesadaran yang sama?

Saya hampir saja menjawab: dengan nasihat. Tapi rasanya itu bukan jawaban yang kuat. Sebab saya sendiri pun sering lupa menjalankan nasihat saya sendiri.

Barangkali bukan lewat ceramah, anjuran, atau larangan. Mungkin lewat latihan yang diulang sampai kita lupa bahwa itu latihan. Sampai sebuah kebiasaan terasa lebih nyaman dilakukan, daripada tidak dilakukan.

Dan ketika kebiasaan itu tidak dijalankan, barulah ia berubah menjadi rasa risih. Rasa terganggu. Rasa kurang. Persis seperti saya, ketika melihat kipas menyala sendirian di mushola kosong.

Begitulah, dari hal kecil saya sering terseret ke renungan yang lebih besar. Dan saya pun tak tahu apakah itu kebiasaan yang baik atau buruk.

Yang jelas, tulisan ini pun lahir persis seperti cara saya berpikir: mulai dari sesuatu yang sederhana, lalu tiba-tiba sudah berada di tempat yang agak jauh.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"