Membaca terlambat

-(Kamis, 18 Desember 2025)-

Ada satu penyesalan yang sejatinya tidak harus terus-menerus merundung saya. Penyesalan itu sederhana, namun terasa dalam: mengapa saya baru menyadari pemikiran-pemikiran filsafat, dan mengapa pula saya baru belakangan mengenal buku-buku ilmiah karya para ilmuwan.

Padahal, jika dipikirkan kembali, saya termasuk orang yang cukup rajin datang ke perpustakaan. Sejak lama, buku bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Namun rupanya, perpustakaan yang pernah saya kunjungi belum—atau mungkin tidak—menyediakan buku-buku yang kelak saya sadari sangat penting bagi pembentukan cara berpikir.

Jika ditarik lebih jauh, sejatinya sudah banyak buku yang saya baca sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun anehnya, semakin banyak membaca, saya justru kerap merasa belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Pengetahuan seolah hadir sebagai serpihan, bukan sebagai pemahaman yang utuh. Hingga kemudian, setelah membaca buku-buku tentang peradaban manusia, saya mulai menemukan jawaban-jawaban yang barangkali selama ini tetap saya cari dalam diam.

Apa yang terjadi pada diri saya barangkali dapat menjadi rujukan. Dengan segala upaya untuk membaca sebanyak mungkin buku, yang pada akhirnya tetap berujung pada penyesalan semacam ini, bagaimana dengan mereka yang bahkan tidak memiliki kesempatan atau dorongan untuk membaca seperti yang saya lakukan?

Barangkali kegelisahan semacam ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah melewati fase berjuang sekadar untuk mencukupi kebutuhan primernya. Dalam banyak masyarakat, membaca buku masih merupakan sebuah kemewahan. Padahal, justru di sanalah letak ironi terbesar: membaca adalah salah satu kunci utama untuk mengubah nasib dan memperbaiki kehidupan.

Kenyataannya, hari ini membaca buku seolah tidak lagi relevan dengan zamannya. Ruang pribadi setiap orang lebih banyak diisi oleh media sosial dan video-video pendek. Segalanya bergerak cepat, dangkal, dan instan. Seolah tak ada lagi dorongan untuk berhenti sejenak, apalagi menyelam lebih dalam ke dalam gagasan dan pemikiran.

Meski terasa terlambat, kini sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian serius untuk kembali mendorong masyarakat—terutama generasi muda—agar gemar membaca buku. Tidak cukup hanya dengan kampanye membaca, pemerintah juga perlu menyediakan buku-buku berkualitas yang mampu mengajak pembacanya berpikir kritis, rasional, dan menggunakan logika yang benar.

Begitulah. Sebelum semuanya terlambat seperti yang saya alami, masih ada waktu untuk berbuat lebih baik. Cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud ketika masyarakatnya memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Dan semuanya, pada akhirnya, selalu dimulai dari membaca buku.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"