Relasi sunyi

-(Kamis, 25 Desember 2025)-

Satu kalimat sempat berhasil saya ketik. Lalu saya hapus kembali. Kalimat itu sebuah klaim—sebuah pernyataan, atau barangkali sebuah premis—yang ketika tetap saya biarkan berada di dalam tulisan, membuat saya ragu: apakah saya sanggup mempertahankannya jika suatu hari ada yang mempertanyakannya.

Maka, demi rasa aman, topik itu urung saya tuliskan.

Awalnya saya berpikir bahwa manusia tidak mungkin hidup bahagia ketika sendirian—tanpa terkoneksi atau terhubung dengan manusia, makhluk, atau entitas lain. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Namun apakah perasaan personal semacam itu layak digeneralisasi, tentu saja perlu dipertanyakan.

Meski demikian, bukankah manusia diciptakan dengan organ-organ yang sama, dengan cara kerja yang serupa pula? Memang ada perbedaan gen, tetapi secara umum tubuh manusia bekerja dengan prinsip yang sama—sebuah fakta yang memungkinkan dunia kedokteran mempelajari penyakit dan mencari solusinya. Dari sana muncul godaan untuk percaya bahwa apa yang dirasakan satu manusia, mungkin juga dirasakan manusia lain, pada batas tertentu.

Saya menulis “makhluk atau entitas lain” dengan sengaja. Barangkali ada orang yang hidup sendirian, tetapi sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Ia hidup bersama hewan peliharaannya, dan dari kehadiran makhluk itu, ia merasakan makna dalam hidupnya. Dan ketika seseorang merasakan makna, barangkali di situlah kebahagiaan mulai tumbuh.

Sementara untuk “entitas lain”, saya membayangkan seorang sufi yang hidup menyendiri dalam khalwat. Ia tampak sendirian, tetapi sejatinya tidak. Ia hidup dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Dengan intuisi akan kehadiran itu—dan dengan keyakinan bahwa tujuan hidup adalah beribadah—ia justru merasakan kebahagiaan.

Barangkali, makna dan tujuan hidup memang hadir ketika seseorang memiliki relasi dengan pihak lain. Ada perasaan bahwa keberadaannya dibutuhkan, disadari, atau dihadirkan bagi sesuatu di luar dirinya. Dari perasaan itulah makna tumbuh.

Namun pada titik ini, saya sendiri mulai ragu untuk melanjutkan tulisan. Apa sebenarnya yang ingin saya ungkapkan lebih jauh? Keraguan ini terasa mirip dengan keadaan seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup yang pasti. Langkahnya sekadar mengikuti arah kakinya berjalan—sebagaimana tulisan ini pun hanya menyandarkan diri pada gerak tangan yang terus mengetik.

Apakah semua ini akan berakhir pada satu titik? Barangkali iya. Kebosanan yang tak bertepi, kesunyian yang terasa tak berujung, pada akhirnya sering membawa seseorang kembali pada hasrat terdalamnya. Dan mungkin, hasrat itu hanya bisa ditemukan melalui satu hal yang paling sederhana sekaligus paling rumit: rasa cinta.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"