Hari rapuh

-(Rabu, 31 Desember 2025)-

Hari Sabtu itu hujan turun terus-menerus—sepanjang pagi hingga siang. Meski hanya rintik-rintik, ia cukup jujur untuk membuat pakaian basah, dan cukup berkuasa untuk mengganggu aktivitas di luar rumah.

Saat itu pula, pikiran saya tertuju pada para pedagang di pasar mingguan. Pasar yang hanya buka di hari Sabtu—yang berarti, satu pagi adalah segalanya, satu siang adalah batasnya, dan satu hujan bisa menggoyahkan keduanya.

Biasanya, Sabtu pagi menjadi panggung optimisme. Para pedagang berdatangan, menempati lapak masing-masing, menyiapkan barang dagangan, dan menata harapan akan rezeki. Tetapi ketika hujan turun, saya membayangkan suasana hati mereka akan ikut merunduk. Bukan karena air, melainkan karena pertanyaan yang lebih berat: bagaimana dengan rezeki hari itu?

Pada momen itulah saya teringat seloroh lama: lebih baik panas daripada hujan. Panas mungkin menguras tenaga, tetapi hujan mengubah takdir rencana. Panas tidak merusak acara—hujan merombak cerita.

Artinya jelas: aktivitas manusia selalu bernegosiasi dengan faktor eksternal yang berada di luar kendali. Maka nasihat sedia payung sebelum hujan terasa relevan, tetapi juga terbatas. Payung cukup untuk kepentingan individu, tetapi ia terlalu kecil untuk menaungi kepentingan kolektif.

Bagaimana jika itu acara besar? Payung tidak akan cukup. Yang dibutuhkan adalah gedung—ruang luas yang mampu menaungi banyak orang, bukan hanya melindungi satu kepala dari basah.

Saya pun sadar, pasar mingguan itu tak sepenuhnya berada dalam gedung. Ada atap, tetapi ia lebih pantas disebut pelindung dari panas, bukan benteng dari hujan. Ketika hujan turun, air tetap menetes, bocor, merembes—seolah mengingatkan bahwa perlindungan fisik pun punya batas ketahanannya.

Gangguan tidak berhenti di situ. Hujan juga menahan pembeli. Pengunjung mungkin memilih tetap di rumah, berbelanja online, atau menunda sampai hujan reda. Namun persoalannya: ketika hujan reda, waktu pasar hampir habis. Jika ia berhenti di siang hari, para pedagang justru telah memasuki jam rehat, bukan jam jual-beli.

Pada saat-saat seperti itu, ketika manusia tak lagi punya kuasa mencegah atau menghentikan hujan, manusia terlihat rapuh—bukan hanya terhadap cuaca, tetapi terhadap ketidakpastian. Dan ironisnya, ia juga sulit berharap pada manusia lain, karena semua orang pun bergegas menyelamatkan dirinya sendiri.

Di titik ketika pertolongan horizontal terhenti, kebutuhan vertikal pun muncul. Kesadaran akan kekuatan transenden hadir bukan sebagai dongeng, melainkan sebagai kebutuhan. Ada permohonan akan perlindungan—agar hujan berhenti, agar aktivitas pulih, agar hidup kembali berjalan normal.

Dan di sinilah saya merasa, kebutuhan manusia akan Tuhan menjadi sangat nyata. Ketika semua daya telah diupayakan dan semua arah sandaran runtuh sementara, manusia tetap butuh pegangan—entitas tempat harapan tidak dipermalukan oleh keadaan.

Tentu saja, ini bukan hanya tentang hujan. Cuaca ekstrem lainnya pun memberi pelajaran serupa. Setiap gangguan besar yang berada di luar kuasa manusia, selalu punya potensi yang sama: mendorong manusia untuk menoleh kembali kepada Tuhannya.

Maka, pada akhirnya saya sampai pada keyakinan sederhana tetapi tajam: Tuhan akan terus menjadi kebutuhan manusia. Bukan karena manusia tak berdaya, tetapi karena hidup selalu menyisakan ruang yang tak bisa diselesaikan hanya dengan daya manusia.

Karena sejatinya, manusia tidak rapuh saat rencana gagal—ia rapuh ketika tak punya tempat untuk tetap berharap.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"