Kreativitas sagu
-(Senin, 20 April 2026)-
Saya kadang merasa menjadi orang yang sok tahu—seolah-olah paling paham, paling pintar, bahkan paling kreatif. Padahal, bisa jadi apa yang saya pikirkan itu sudah lama hadir di kepala orang lain, bahkan mungkin sudah diwujudkan. Hanya saja, saya belum cukup rendah hati untuk mencari tahu.
Pikiran itu muncul ketika saya memikirkan sinonggi—atau papeda—makanan sederhana berbahan sagu yang begitu lekat dengan keseharian. Rasanya khas, teksturnya unik, tetapi cara mengolahnya terasa seperti berjalan di tempat: begitu-begitu saja, seperti diwariskan tanpa pernah benar-benar digugat.
Dari situlah muncul satu pertanyaan yang barangkali naif: mengapa sinonggi tidak diberi kemungkinan rasa yang lebih luas? Mengapa kita selalu menerima ia dalam bentuk alaminya, tanpa mencoba membuka ruang bagi variasi?
Bayangan saya sederhana. Bagaimana jika air panas yang digunakan untuk mengaduk sagu itu bukan sekadar air biasa? Bagaimana jika ia sudah mengandung rasa sejak awal—misalnya, campuran gula merah dan santan, sehingga sinonggi yang terbentuk langsung menghadirkan manis yang hangat? Atau mungkin airnya berupa kaldu gurih, sehingga setiap suapan sudah terasa utuh, tanpa harus menunggu lauk sebagai penopang rasa?
Mungkin ini terdengar seperti gagasan kecil. Mungkin juga ini bukan hal baru. Tetapi di balik itu, ada kegelisahan yang lebih dalam: apakah kita terlalu cepat merasa cukup dengan apa yang diwariskan, hingga lupa bahwa tradisi pun bisa diajak berdialog?
Dari situ pula muncul bayangan lain—bagaimana jika ada ruang yang secara sadar mendorong eksplorasi? Misalnya, lomba kreativitas olahan sinonggi yang diinisiasi oleh pemerintah daerah. Bukan untuk meninggalkan warisan leluhur, melainkan untuk merawatnya dengan cara yang lebih hidup: memberi kesempatan bagi tradisi untuk tumbuh, bukan sekadar bertahan.
Namun, di ujung semua itu, saya kembali pada diri sendiri. Barangkali ini hanya suara ego yang ingin merasa menemukan sesuatu. Barangkali pula ini sekadar ilusi orisinalitas. Sebab bisa jadi, di luar sana, seseorang sudah lebih dulu memikirkan hal yang sama—bahkan melangkah lebih jauh.
Dan di situlah saya belajar satu hal kecil: ide tidak selalu lahir dari pengetahuan yang luas, kadang justru dari ketidaktahuan yang jujur. Tetapi agar ia tidak menjadi sekadar kesombongan yang samar, ia perlu ditemani oleh kerendahan hati—untuk mencari, mendengar, dan menerima bahwa kita bukan yang pertama.