Kemajuan timpang
-(Selasa, 12 Mei 2026)-
Dalam satu hari, saya bisa berada di empat provinsi sekaligus. Pagi masih di provinsi A. Siang terbang dan transit di provinsi B. Beberapa jam kemudian mendarat di provinsi C. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lewat jalur darat menuju provinsi D. Apa yang dulu mungkin membutuhkan berhari-hari perjalanan, kini bisa dipadatkan menjadi hitungan jam.
Di tengah perjalanan seperti itu, sering muncul rasa takjub yang sulit dijelaskan. Betapa jauh manusia telah melangkah dalam menaklukkan persoalan transportasi. Jarak yang dulu terasa seperti dinding besar, sekarang tinggal garis tipis di layar ponsel dan jadwal keberangkatan. Bandara, pesawat, jalan tol, sistem navigasi—semuanya seperti bukti bahwa manusia tidak pernah berhenti mencari cara agar hidup menjadi lebih cepat, lebih mudah, lebih efisien.
Namun setiap kali rasa kagum itu muncul, selalu ada pertanyaan lain yang diam-diam mengikuti di belakangnya.
Kemajuan sebesar ini sebenarnya milik siapa?
Sebab di saat sebagian orang dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain hanya dalam beberapa jam, sebagian yang lain masih berkutat dengan persoalan dasar yang tak kunjung selesai. Ada yang hidup dalam ritme teknologi tinggi, sementara yang lain masih bertahan dengan pola hidup yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun. Kemajuan ternyata tidak datang seperti hujan yang jatuh merata di seluruh permukaan bumi. Ia lebih sering menyerupai cahaya lampu kota: terang di satu tempat, redup di tempat lain, dan gelap sepenuhnya di sebagian wilayah.
Di situlah saya mulai bertanya-tanya: apakah memang sejak awal peradaban manusia bergerak dengan cara seperti itu? Apakah kemajuan memang selalu membutuhkan ketimpangan? Bahwa ketika satu kelompok melesat jauh ke depan, selalu ada kelompok lain yang tertinggal di belakang sebagai konsekuensinya.
Mungkin istilah “zero sum game” tidak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan hal ini. Tetapi ada kesan kuat bahwa kesejahteraan dunia tidak pernah benar-benar dibangun di atas distribusi yang setara. Seolah-olah kemakmuran hanya bisa terlihat ketika ia terkonsentrasi pada sebagian orang. Ketika semua orang memiliki kadar yang sama, manusia justru berhenti menyebutnya sebagai kemewahan atau kesejahteraan.
Barangkali karena itu, sejarah kemajuan manusia sering tampak paradoksal. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi jarak antarmanusia justru terasa semakin lebar. Dunia menjadi semakin terkoneksi, tetapi pengalaman hidup tiap orang bisa sangat berbeda. Ada yang hidup dalam kecepatan tinggi, ada yang bahkan belum sempat ikut bergerak.
Lalu saya berpikir, mungkin persoalannya bukan pada teknologi itu sendiri. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah akhirnya tetap manusia: bagaimana ia membagi akses, kesempatan, dan manfaat dari kemajuan itu. Sebab tanpa kesadaran semacam itu, kemajuan hanya akan menjadi semacam lorong cepat yang membawa sebagian orang melaju jauh ke depan, sementara sebagian lainnya berdiri memandang dari pinggir jalan.
Dan mungkin, pertanyaan paling pentingnya bukan lagi seberapa maju manusia bisa melangkah, melainkan: apakah kemajuan itu membuat semakin banyak manusia ikut sampai, atau justru semakin banyak yang tertinggal.