Gelar Dokter

-(Jumat, 10 April 2026)-

Akhirnya, perjalanan panjang itu tiba di garis akhir—sebuah titik yang selama ini dibayangkan, diperjuangkan, dan diam-diam diragukan. Barangkali setelah ini yang tersisa adalah perayaan, pengucapan sumpah, dan peneguhan komitmen atas gelar profesi yang kini melekat. Namun, di balik seremoni itu, ada jejak-jejak sunyi dari proses yang tidak selalu tampak.

Kurang lebih lima setengah tahun waktu ditempuh untuk meraih cita-cita menjadi dokter. Sebuah perjalanan yang tidak sederhana, meski bukan pula sesuatu yang mustahil. Di dalamnya ada drama yang tak terelakkan, pengorbanan waktu yang tak kembali, air mata yang jatuh tanpa saksi, tekanan yang menguji batas, serta rasa tidak nyaman yang kerap datang tanpa undangan. Semua itu membentuk daya tahan, mengasah ketekunan, sekaligus menguji keyakinan.

Namun, perjalanan ini juga tidak sepenuhnya bebas dari privilege. Fakultas ini, bagaimanapun, masih menyandang reputasi sebagai ruang bergengsi dan favorit. Persepsi itu menghadirkan kebanggaan tersendiri—sejenis legitimasi sosial yang kadang diam-diam ikut dinikmati. Dalam percakapan tentang dunia perkuliahan, ada kehormatan yang terasa, seolah perjuangan itu mendapat pengakuan bahkan sebelum selesai. Dan mungkin, di situlah letak paradoksnya: antara kerja keras yang sunyi dan pengakuan yang terlihat.

Bagi kami sebagai orang tua, perjalanan ini bukan sekadar miliknya, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama. Kami menyaksikan dari dekat bagaimana setiap tahap dilalui—dari skripsi hingga gelar S.Ked., dari masa coass hingga ujian profesi. Tidak ada penundaan, tidak ada langkah yang terhenti terlalu lama. Semua dijalani dengan ritme yang, meski kadang tersendat, tetap bergerak maju dan tepat waktu. Tentu saja ada pasang surut, ada momen ragu, ada lelah yang nyaris tak terucap. Namun pada akhirnya, semua itu menemukan bentuknya dalam keberhasilan.

Kini, satu babak telah selesai. Sebentar lagi, melalui sumpah profesi, ia akan melangkah ke fase berikutnya—bukan lagi sekadar belajar, tetapi mengabdi. Dunia yang akan dihadapinya bukan lagi ruang kelas atau bangsal latihan, melainkan kehidupan nyata dengan segala kompleksitasnya. Di sanalah gelar ini akan diuji maknanya: bukan sebagai simbol, tetapi sebagai tanggung jawab.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"