Hidup menunggu

-(Sabtu, 11 April 2026)-

Di banyak tempat, saya menemukan pola yang serupa. Ini bukan kesimpulan yang lahir dari satu-dua pengamatan, melainkan dari cukup banyak perjumpaan yang menyisakan kesan yang sama: ada semacam logika penantian yang diam-diam mengatur cara orang menjalani hidupnya. Mereka berada di suatu tempat, tetapi tidak sepenuhnya hadir di sana. Seolah-olah, tempat itu hanya ruang tunggu—bukan tujuan.

Cara mereka merawat tempat tinggalnya menjadi petunjuk yang paling jujur. Rumah-rumah itu tampak apa adanya, bahkan cenderung dibiarkan. Pada bangunan yang berstatus milik negara itu, misalnya, jendela-jendela ditutup kertas, bukan sekadar untuk menghalangi pandangan dari luar, tetapi seperti menyembunyikan ketidakterikatan dari dalam. Halaman dibiarkan dengan rumput yang meninggi, daun-daun yang berserakan tanpa arah. Dinding mengelupas, memperlihatkan lapisan semen dan pasir, seperti tubuh yang tak lagi dijaga penampilannya. Di dalam rumah, perabot terasa seperlunya—cukup untuk bertahan, tidak untuk menetap.

Semua itu seolah berangkat dari satu asumsi sederhana: ini hanya sementara. Maka hidup pun diatur dalam mode darurat. Tidak perlu banyak barang, karena nanti harus dibawa. Tidak perlu banyak perbaikan, karena nanti akan ditinggalkan. Ada kehati-hatian yang aneh—bukan karena peduli, melainkan karena tidak ingin terlalu terlibat.

Namun, logika “sementara” itu perlahan berubah menjadi kebiasaan yang menetap. Ia tinggal di pikiran, membentuk cara pandang, bahkan cara merasakan. Ada keyakinan samar bahwa suatu hari nanti mereka akan sampai di tempat yang benar-benar dituju—sebuah kota, sebuah keadaan, sebuah fase hidup di mana semuanya akhirnya terasa tepat. Di sanalah, mungkin, hidup akan dimulai dengan sungguh-sungguh.

Masalahnya, tak ada yang benar-benar tahu kapan hari itu datang. Bahkan, tidak ada jaminan bahwa ia akan datang sama sekali. Sementara itu, waktu terus berjalan, dan kehidupan yang dijalani hari ini menjadi sekadar jeda yang terlalu panjang. Tubuh ada di sini, tetapi jiwa selalu setengah jalan menuju tempat lain.

Lalu, seperti apa hidup yang terus-menerus dianggap sementara? Ia menjadi hidup yang ditangguhkan—tidak pernah benar-benar tumbuh, tidak sepenuhnya dirawat, dan diam-diam kehilangan maknanya. Sebab hidup, pada akhirnya, tidak menunggu kita merasa siap untuk menjalaninya. Ia hanya berjalan. Dan ketika kita terlalu lama menganggap segalanya sebagai persinggahan, bisa jadi kita tak pernah benar-benar tiba.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"