Belanja masalah

-(Rabu, 20 Mei 2026)-

Barangkali memang demikian rumus kehidupan manusia: tidak ada kebahagiaan yang benar-benar utuh. Di balik hidup yang tampak tenang, selalu ada sesuatu yang sedang dipikul. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dengan bentuk dan kadar yang sering kali tak terlihat dari luar. Karena itu, merasa iri pada kehidupan orang lain sesungguhnya hanya lahir dari jarak pandang yang sempit. Kita melihat permukaannya, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka sembunyikan di balik senyum, jabatan, kemapanan, atau pencapaiannya.

Dan agaknya, hukum itu berlaku selama manusia masih hidup. Satu persoalan selesai, persoalan lain datang menggantikan. Kadang ia datang dari luar diri: keadaan, lingkungan, tekanan sosial. Tetapi sering kali, sumber terbesar masalah justru tumbuh dari dalam diri sendiri—dari keinginan yang tak pernah selesai.

Manusia memang cenderung hidup seperti sedang menaiki tangga tanpa ujung. Ketika berhasil mencapai satu anak tangga, matanya segera tertuju pada tingkat berikutnya. Setelah sampai di sana, ternyata masih ada lagi yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Keinginan terus bergerak, sementara kemampuan, kesempatan, dan keadaan tidak selalu berjalan seirama. Dari situlah kegelisahan lahir. Bukan semata karena hidup terlalu berat, melainkan karena hasrat manusia sering kali melampaui batas yang sanggup dipenuhi kenyataan.

Ironisnya, dalam banyak keadaan, manusia justru membangun hidupnya di atas pengejaran tanpa henti itu. Ia merasa harus terus naik, terus memiliki, terus diakui. Padahal semakin tinggi seseorang berdiri, semakin luas pula hal-hal yang ingin ia capai. Keinginan bekerja seperti cakrawala: semakin didekati, semakin menjauh.

Dalam kehidupan pribadi saja masalah tidak pernah benar-benar selesai, apalagi ketika seseorang masuk ke ruang sosial dan menerima amanah publik. Di titik itu, masalah bukan lagi sesuatu yang dihindari, melainkan sesuatu yang harus dicari. Seorang pejabat publik, misalnya, pada dasarnya hidup dari persoalan orang banyak. Ia “berbelanja masalah” setiap hari—mendengar keluhan, menghadapi konflik, menerima tuntutan, lalu mencari jalan keluar yang sering kali tak pernah memuaskan semua pihak.

Karena itu, menjadi bagian dari ruang publik sesungguhnya berarti bersedia hidup berdampingan dengan masalah tanpa jeda. Semakin besar kewenangan dan tanggung jawab yang dimiliki seseorang, semakin besar pula beban persoalan yang datang menghampirinya. Masalah menjadi bagian dari rutinitas, bahkan kadang menjadi identitas dari pekerjaan itu sendiri.

Mungkin di situlah letak kedewasaan manusia diuji: bukan pada kemampuannya menghindari masalah, tetapi pada kesediaannya menerima bahwa hidup memang tidak pernah steril dari persoalan. Sebab selama manusia masih memiliki keinginan, harapan, dan hubungan dengan orang lain, selama itu pula masalah akan selalu menemukan jalannya untuk hadir.