Naik kereta

-(Kamis, 14 Mei 2026)-

Hari itu kami naik kereta menuju kota terbesar di provinsi itu. Perjalanan dimulai dari sebuah stasiun kecil yang tampak tenang, sampai kami mengetahui bahwa penumpang di sana tidak bisa membeli tiket secara go show. Untungnya, beberapa saat sebelumnya saya sempat meminta tolong untuk dibelikan tiket lewat aplikasi—keputusan yang sebenarnya muncul begitu saja, nyaris tanpa pertimbangan panjang.

Kadang hidup memang berjalan seperti itu. Ada keputusan-keputusan yang datang tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan, seolah ada dorongan halus yang meminta kita segera bertindak. Saat itu saya hanya mengikuti naluri. Baru kemudian saya sadar, keputusan kecil itu ternyata menyelamatkan perjalanan kami. Andai tiket itu tidak sempat dibeli, mungkin kami tak jadi berangkat naik kereta. Dan mungkin pula, hari yang menyenangkan itu tak pernah benar-benar terjadi.

Kereta melaju sekitar dua jam. Waktu yang sebenarnya singkat, tetapi terasa panjang dalam cara yang menyenangkan. Banyak kursi kosong membuat suasana di dalam gerbong terasa lengang, seolah kereta itu hanya milik kami berdua. Kami bercakap-cakap tanpa tergesa, tanpa distraksi. Di luar jendela, sawah, kebun, dan rumah-rumah penduduk bergerak perlahan seperti potongan hidup yang dipindahkan dari satu bingkai ke bingkai lain.

Perjalanan kereta memang sering menghadirkan ruang yang aneh: tubuh kita bergerak menuju suatu tempat, tetapi pikiran justru berjalan ke mana-mana. Dari balik jendela itu, saya melihat banyak hal sederhana yang memancing pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala. Tentang orang-orang yang tinggal di rumah-rumah dekat rel. Tentang kehidupan yang terus berjalan di luar diri kita. Tentang jalan hidup yang membawa setiap orang ke arah yang berbeda-beda.

Sebagian pertanyaan mungkin akan menemukan jawabannya sendiri seiring waktu. Sebagian lain mungkin akan tetap tinggal sebagai endapan dalam pikiran—diam, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Namun saya rasa hidup memang dibentuk bukan hanya oleh jawaban, melainkan juga oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus kita bawa berjalan.

Dan mungkin, pada akhirnya, perjalanan dua jam itu bukan sekadar perpindahan menuju sebuah kota. Ia menjadi semacam pengingat bahwa hidup sering kali digerakkan oleh keputusan-keputusan kecil yang nyaris dianggap sepele. Keputusan yang pada saat itu terasa biasa saja, tetapi diam-diam menentukan pengalaman apa yang akhirnya bisa kita temui.


Populer

Hak guru

Puas pemerintah

Enggan adaptasi

Officially, dr. Wau

Kemajuan timpang

Menemukan ide

Optimisme

Daya sinema

Agar Karir Tidak Berhenti

Lagu imitasi