Logika rezeki

-(Sabtu, 2 Mei 2026)-

Jalan pagi sering memberi saya hal-hal kecil yang tampaknya biasa, tetapi diam-diam memantik renungan panjang. Kadang saya menemukan pemandangan yang baru pertama kali terlihat, kadang justru sesuatu yang sudah berkali-kali lewat di depan mata—namun baru benar-benar saya perhatikan belakangan ini.

Beberapa pagi terakhir, perhatian saya tertuju pada sebuah kios penjual bensin eceran yang berdiri tepat di depan SPBU. Bukan sekadar keberadaannya yang membuat saya berhenti berpikir, melainkan logika di balik keputusan itu. Di kepala saya, pertanyaan sederhana segera muncul: mengapa seseorang memilih berjualan BBM persis di depan tempat yang menjual produk sama, dengan harga lebih murah, takaran lebih pasti, dan jaminan kualitas yang lebih dipercaya?

Secara bisnis, keputusan itu tampak seperti menanam pohon di bawah bayang-bayang pohon yang jauh lebih besar. Peluang hidupnya terlihat tipis. Pengendara motor, tentu saja, secara rasional akan memilih mengisi bensin di SPBU. Lebih murah, lebih aman, dan lebih meyakinkan. Lalu apa yang membuat penjual eceran itu tetap bertahan di sana?

Mungkin jawabannya bukan semata hitung-hitungan dagang. Bisa jadi ada keyakinan yang bekerja di baliknya: bahwa rezeki memiliki jalannya sendiri. Bahwa Tuhan telah mengatur bagian setiap orang, dan tugas manusia hanyalah berikhtiar. Logika semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi fondasi keberanian orang-orang kecil untuk tetap bertahan di tengah persaingan yang tampak mustahil dimenangkan.

Dan faktanya, kios itu masih ada. Itu berarti selalu ada kemungkinan transaksi terjadi. Mungkin ada pengendara yang datang ketika SPBU sedang kehabisan stok. Mungkin ada yang motornya sudah benar-benar kehabisan bensin dan kios itu menjadi satu-satunya penyelamat yang paling dekat. Atau mungkin ada antrean panjang di SPBU, sementara seseorang sedang terburu-buru dan memilih membayar lebih mahal demi menghemat waktu.

Di titik itu saya sadar, sering kali kita terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dari logika permukaan. Kita mengira sebuah usaha tidak masuk akal hanya karena melihatnya dari sudut pandang kita sendiri. Padahal pasar kadang hidup dari celah-celah kecil yang luput dari perhatian orang lain. Seperti air yang selalu menemukan retaknya sendiri untuk mengalir, demikian pula cara manusia bertahan hidup.

Logika serupa sebenarnya mudah kita temukan di tempat lain. Lihat saja minimarket yang berdiri saling berhadapan, atau berjejer hanya berjarak beberapa meter. Dari luar tampak absurd—seolah mereka sedang berebut pelanggan dari kolam yang sama. Namun nyatanya mereka tetap berdiri, tetap menyala setiap malam, dan tetap melayani orang-orang yang datang silih berganti.

Mungkin hidup memang tidak selalu berjalan dengan rumus yang kita anggap rasional. Ada variabel yang tidak tercatat dalam teori ekonomi, tidak tertulis dalam buku strategi bisnis, tetapi nyata dalam keseharian: kebiasaan manusia, momentum, kebutuhan mendesak, keberanian mengambil celah, dan tentu saja keyakinan bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tak pernah kita duga.

Dan pagi itu, dari sebuah kios bensin kecil di depan SPBU, saya kembali diingatkan bahwa hidup sering kali bekerja dengan logika yang lebih luas daripada yang mampu kita pahami.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"