Napak tilas
-(Rabu, 8 April 2026)-
Saya berdiri di titik yang sama—sebuah tempat yang, puluhan tahun silam, menjadi awal dari sebuah kisah sederhana yang kini terasa begitu berarti. Di sinilah, setelah turun dari kapal, untuk pertama kalinya kami bertemu seorang tukang becak. Kami memintanya mengantar ke kantor tempat kami akan mulai bertugas. Ketika ditanya ongkosnya, ia menyebut angka sepuluh ribu rupiah—jumlah yang, pada masa itu, bukanlah angka kecil.
Tanpa menawar, kami menerimanya. Kami naik, diantar, dan tiba di tujuan tanpa banyak pikiran.
Baru keesokan harinya, ketika berbincang dengan rekan-rekan baru yang merupakan penduduk setempat, cerita itu berubah makna. Mendengar tarif yang kami bayar, beberapa di antara mereka langsung bereaksi keras. Ada yang menyebut kami ditipu, ada pula yang berkata seandainya bertemu tukang becak itu, ia akan menegurnya. Reaksi mereka membuat kami sadar: ongkos yang kami bayar memang jauh melampaui kewajaran. Pada masa itu, perjalanan serupa dengan ojek hanya dihargai sekitar lima ratus rupiah.
Namun waktu, rupanya, memiliki caranya sendiri dalam mengolah pengalaman. Apa yang dulu mungkin terasa sebagai kerugian, kini menjelma menjadi serpihan cerita—ringan, nyaris jenaka—yang justru memperkaya perjalanan hidup. Ada pelajaran yang tak selalu bisa diukur dengan selisih angka.
Pagi ini, di tempat yang sama, saya seperti memutar ulang rekaman lama. Napak tilas—barangkali itu istilah yang paling tepat untuk apa yang saya lakukan selama tiga hari ini. Saya menyusuri jalan yang dulu pernah saya lewati, memandang bangunan-bangunan yang sebagian masih setia pada bentuknya, dan tanah lapang yang menyimpan ingatan tanpa suara. Namun tak bisa dimungkiri, waktu telah bekerja dengan tekun. Kota ini kini lebih ramai, lebih padat, dan lebih modern, meski di beberapa sudut, masa lalu masih bertahan seperti bayangan yang enggan sepenuhnya hilang.
Nama-nama tempat bermunculan di ingatan—sebagian masih utuh, sebagian lain telah memudar. Itu wajar. Puluhan tahun adalah jarak yang cukup panjang untuk mengikis detail, namun tidak cukup kuat untuk menghapus rasa.
Ada pula hal-hal yang tetap sama, seolah waktu memilih untuk tidak menyentuhnya. Laut yang jernih, sebagian berwarna hijau toska, pantai-pantai dengan pasir putih yang memantulkan cahaya, dan airnya yang bening menggoda—semua itu masih hadir dengan pesona yang sama seperti dulu. Bahkan, mungkin, terasa lebih dalam, karena kini saya memandangnya dengan kesadaran yang berbeda.
Tempat-tempat ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga memberi ruang bagi jiwa untuk beristirahat. Sejenak, segala hiruk-pikuk kehidupan seperti menjauh, digantikan oleh ketenangan yang sederhana.
Dan pada akhirnya, saya menyerah pada godaan itu. Saya turun ke air, membiarkan tubuh menyatu dengan laut, seperti seseorang yang kembali pada bagian dirinya yang sempat tertinggal.
Di titik ini, saya menyadari: perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga perjumpaan kembali—dengan masa lalu, dengan ingatan, dan dengan diri sendiri yang pernah ada.