Ilusi data
-(Sabtu, 4 April 2026)-
Ada keyakinan yang diam-diam tumbuh di sebagian pihak: bahwa data yang mereka miliki memiliki daya guna yang besar. Keyakinan ini kerap diperkuat oleh ungkapan populer—data adalah “minyak baru”. Dari sana, lahirlah berbagai analisis, kajian, dan rekomendasi yang disusun dengan kesungguhan. Namun, pertanyaan yang sering luput diajukan justru yang paling mendasar: apakah rekomendasi itu benar-benar ditindaklanjuti?
Di titik inilah tantangan mulai terlihat. Banyak rekomendasi berhenti sebagai dokumen—rapi, argumentatif, tetapi tak bergerak. Ia seperti peta yang detail, namun tak pernah benar-benar digunakan untuk menempuh perjalanan. Ada begitu banyak faktor yang membuatnya mandek: dari keterbatasan kewenangan hingga realitas sumber daya yang tak sebanding dengan ambisi gagasan.
Di sisi lain, muncul pula ilusi lain—bahwa kepemilikan data lintas sektor memberi legitimasi untuk turut terlibat dalam berbagai program. Niatnya sering kali baik: ingin berkontribusi, memberi pendampingan, menjadi bagian dari solusi. Namun di lapangan, niat itu berhadapan dengan batas-batas yang konkret. Tanpa kewenangan yang jelas dan sumber daya yang memadai, keterlibatan tersebut perlahan kehilangan arah. Fokus bergeser, energi terpecah, dan pada akhirnya kualitas pun ikut terkorbankan.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika banyak pihak terlibat dalam ruang yang sama. Alih-alih berkolaborasi, yang muncul justru ego sektoral. Masing-masing berjalan dengan agendanya sendiri, mengerjakan hal yang serupa tanpa koordinasi yang memadai. Energi yang seharusnya bisa dibagi dan disinergikan, justru habis untuk mengulang hal yang sama. Di sini, kita tidak kekurangan upaya—kita kekurangan orkestrasi.
Ada pula kenyataan yang lebih sunyi: kerja keras dalam mengumpulkan data dan menyusun analisis kerap berakhir sebagai sekadar pelengkap. Ia menjadi bahan pembanding bagi pimpinan otoritas, semacam legitimasi bahwa semua telah “dipertimbangkan”. Namun di balik itu, ada harga yang dibayar—organisasi yang bekerja dengan segala keterbatasannya harus mengorbankan fokusnya demi menjaga eksistensi di hadapan otoritas.
Barangkali di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan menimbang ulang. Beban-beban yang berada di luar kewenangan semestinya direviu dengan jernih. Jika memang dianggap penting, maka penyesuaian pada struktur organisasi dan peran harus menjadi pilihan yang berani diambil. Bukan dibiarkan menggantung sebagai struktur bayangan—hadir secara informal, namun bekerja secara nyata tanpa kejelasan.
Kita tentu paham, upaya penyesuaian semacam ini sering kali berhadapan dengan tembok birokrasi yang tebal dan lamban. Namun tanpa keberanian untuk menata ulang, kita hanya akan terus memproduksi data, analisis, dan rekomendasi—yang berakhir sebagai gema di ruang yang sama, tanpa pernah benar-benar mengubah apa pun.