Dermaga kenangan
-(Kamis, 9 April 2026)-
Pagi itu, saya berjalan kaki menyusuri sisa-sisa kenangan yang masih melekat samar. Langkah saya mengarah ke pinggiran laut, dekat pelabuhan—sebuah lanskap yang seolah menjadi wajah paling jujur dari kota ini. Di sana, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda: tidak sepenuhnya maju, tidak sepenuhnya tertinggal.
Sesekali, masa lalu menampakkan dirinya dalam rupa bangunan tua, rumah makan sederhana, juga aneka jajanan khas yang akrab di ingatan. Laut di hadapannya terbentang tenang—jernih, seakan waktu tak pernah benar-benar menyentuhnya. Ada daya pikat yang sama, yang dulu pernah membuat saya ingin berlama-lama, membiarkan tubuh dan pikiran kembali segar oleh hembusan angin asin.
Langkah saya kemudian berhenti di dermaga, di antara kumpulan kapal dan perahu kayu yang berjajar rapat. Tulisan-tulisan besar pada badan kapal—nama dan tujuan pelayaran—terbaca seperti janji akan perjalanan yang belum pernah saya tempuh. Kapal-kapal itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan kemungkinan: tentang keberanian menyeberang, tentang kesiapan meninggalkan yang dikenal menuju yang belum pasti. Saya menyadari, keinginan itu ada, tetapi belum sepenuhnya matang. Barangkali masih menunggu satu hal sederhana yang sulit dikumpulkan: keberanian.
Di tengah keramaian yang terasa asing, saya sadar diri ini seperti orang luar. Tatapan orang-orang setempat tak sepenuhnya bisa saya baca, sementara saya sendiri berusaha memahami ritme yang mereka jalani setiap hari. Ada jarak yang tak kasat mata—antara saya dan mereka, antara kini dan dulu—yang membuat saya terasa seperti pengunjung dalam ruang yang seharusnya akrab.
Perjalanan pagi itu berlanjut, membawa saya menyusuri lorong-lorong sempit yang perlahan membuka kembali lapisan-lapisan ingatan. Di sanalah saya menyadari sesuatu yang ganjil namun nyata: diri saya seolah terbelah. Sebagian menjalani kehidupan saat ini—menapak jalanan kota dengan kesadaran penuh—sementara sebagian lain tertinggal di masa silam, menghidupkan kembali fragmen-fragmen yang tak pernah benar-benar hilang.
Barangkali, di antara dua tarikan waktu itu, kita justru menemukan makna. Bahwa hidup bukan sekadar bergerak maju, tetapi juga kemampuan untuk berdamai dengan apa yang pernah tinggal di belakang—dan menerima bahwa keduanya akan selalu berjalan berdampingan dalam diri kita.