Menemukan ide
-(Minggu, 10 Mei 2026)-
Beberapa menit yang terasa panjang saya habiskan dalam diam. Duduk, berdiri, lalu berbaring—seolah posisi tubuh bisa menukar kebuntuan dengan ilham. Namun tak ada yang berubah. Pikiran tetap kosong, seperti halaman yang enggan disentuh kata.
Akhirnya saya kembali pada cara yang paling jujur: menulis tentang kebuntuan itu sendiri. Tentang kegagalan menemukan ide, tentang rasa hampa yang menggantung. Ada semacam keyakinan sederhana—bahwa dengan mulai menulis, bahkan dari ketiadaan, sesuatu akan bergerak. Dan benar saja, dari celah kecil itulah sebuah gagasan menyelinap masuk.
Saya teringat pada angka pertumbuhan ekonomi triwulan pertama tahun ini: 5,61 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi. Sebuah angka yang, di atas kertas, membawa kabar baik. Ia seperti lampu yang menyala di tengah ruang gelap—memberi harapan, sekaligus arah.
Tak sulit membayangkan bagaimana angka itu disambut. Wajah-wajah sumringah, senyum yang mengembang, mungkin juga tawa lega dari para pengelola ekonomi negeri ini. Di tengah target ambisius menuju 8 persen, capaian ini menjadi semacam bahan bakar baru—penyemangat untuk melangkah lebih jauh, lebih cepat.
Namun seperti biasa, angka tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu diiringi tafsir, bahkan kecurigaan. Di luar lingkar kekuasaan, sebagian pihak menyambutnya dengan alis terangkat. Ketidakpercayaan muncul, lalu berkembang menjadi tuduhan—ditujukan pada mereka yang memegang data dan otoritas.
Masalahnya bukan semata pada keraguan, melainkan pada bagaimana keraguan itu disebarkan. Di media sosial, ia sering kali berubah bentuk—dibumbui teori, opini, dan narasi yang sensasional. Bukan lagi sekadar mempertanyakan, tetapi perlahan mengaburkan capaian itu sendiri.
Di sinilah letak kerentanannya. Ketika narasi yang belum tentu utuh dikonsumsi oleh masyarakat yang sebagian masih mudah terpengaruh, optimisme bisa tergantikan oleh keraguan. Padahal, dalam ekonomi, persepsi sering kali sama kuatnya dengan realitas.
Karena itu, kerja ekonomi tidak cukup berhenti pada angka. Ia harus dilengkapi dengan komunikasi yang jernih dan publikasi yang cermat. Menumbuhkan optimisme bukan sekadar urusan retorika, melainkan strategi. Sebab masyarakat yang percaya akan masa depan cenderung berani mengambil langkah—membelanjakan, berinvestasi, dan pada akhirnya menggerakkan roda ekonomi itu sendiri.
Dan mungkin, seperti proses menulis tadi, optimisme juga bekerja dengan cara yang serupa: ia tidak selalu hadir di awal, tetapi bisa tumbuh saat kita berani memulainya.