Logika data
-(Sabtu, 23 Mei 2026)-
Saya masih memikirkan beberapa jawaban ketika saya bertanya tentang program makanan itu. Jawabannya singkat: “Ndak dimakan, Pak.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru memunculkan banyak pertanyaan di kepala saya. Benarkah situasinya memang seperti itu? Ataukah kita terlalu cepat menarik kesimpulan hanya dari serpihan kecil peristiwa yang terlihat di depan mata?
Kadang saya merasa persoalannya bukan semata pada programnya, melainkan pada cara kita membaca kenyataan. Kita sering melihat satu kejadian, satu video pendek, atau satu potongan berita, lalu tergesa menyimpulkan bahwa itulah gambaran keseluruhan. Padahal dalam logika data, satu sampel belum tentu mampu mewakili seluruh keadaan. Ada jarak yang cukup jauh antara “terjadi di satu tempat” dengan “terjadi di mana-mana”. Namun di ruang publik hari ini, jarak itu sering dihapus begitu saja.
Mungkin di situlah letak keributan yang belakangan muncul. Media sosial membuat satu kasus kecil dapat membesar seperti cermin retak yang dipantulkan berkali-kali. Orang melihat pecahannya, lalu mengira seluruh kaca memang hancur. Padahal bisa jadi yang retak hanya satu sudut kecil saja.
Saya semakin yakin bahwa kemampuan membaca data dan memahami konteks masih menjadi pekerjaan rumah besar kita. Bukan hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi para pengamat, komentator, bahkan mereka yang setiap hari membentuk opini di media sosial. Terlalu sering kesimpulan dibangun di atas potongan-potongan yang belum utuh. Akibatnya, perdebatan lebih banyak dipenuhi asumsi daripada proporsi.
Padahal sebuah kebijakan publik hampir tidak pernah bisa diukur hanya dari satu pengalaman individual. Ia harus dilihat dari keseluruhan data, dari perbandingan yang utuh, dari berapa banyak yang menerima manfaat dan berapa banyak yang belum tersentuh. Tanpa itu, kita mudah terjebak pada kesan, bukan kenyataan.
Karena itu saya merasa pemerintah juga memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Setiap program semestinya disertai keterbukaan data yang jelas dan mudah dipahami publik. Bukan sekadar klaim berhasil atau gagal, tetapi angka-angka yang memberi konteks: berapa penerima manfaatnya, bagaimana distribusinya, apa tantangannya, dan sejauh mana dampaknya dirasakan masyarakat. Dengan begitu, publik tidak dipaksa menilai hanya dari potongan video yang lewat di beranda.
Pada akhirnya, saya percaya tidak ada kebijakan yang mampu memuaskan semua orang. Selalu akan ada kekurangan, selalu ada pihak yang merasa belum mendapatkan manfaat. Tetapi sebelum kita terburu-buru menghakimi sebuah program, mungkin yang paling penting adalah memastikan bahwa kita sedang melihat keseluruhan gambar, bukan hanya serpihan kecil yang kebetulan paling ramai dibicarakan.