Faskes terbatas

-(Kamis, 21 Mei 2026)-

Baru kali itu saya menonton satu video TikTok dengan begitu saksama sampai selesai. Entah kenapa, video itu seperti menahan saya untuk tidak berpaling. Bukan karena dramatis, melainkan karena ada sesuatu yang terasa sangat nyata di dalamnya: rasa tidak berdaya di hadapan keterbatasan.

Dalam video itu, seseorang bercerita tentang orang yang ia cintai yang meninggal setelah mengalami kecelakaan di sebuah daerah terpencil. Bukan karena tidak ada dokter. Bukan pula karena keluarga mereka tidak punya uang. Masalahnya jauh lebih sunyi dan lebih menyesakkan: rumah sakit di daerah itu tidak memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa.

Yang membuat cerita itu terasa menghantam adalah kenyataan bahwa orang tersebut sebenarnya kaya raya. Ia mampu membeli alat kesehatan apa pun. Tetapi pada saat genting itu, kekayaan mendadak kehilangan kuasanya. Uang ternyata tidak selalu bisa mengalahkan keadaan. Ketika seseorang berada di tempat yang infrastrukturnya rapuh, semua privilese bisa runtuh dalam hitungan menit.

Mereka bahkan sempat ingin mendatangkan helikopter agar korban segera dibawa ke kota lain. Namun persoalannya kembali sama: tidak ada tempat yang memungkinkan helikopter mendarat. Seolah seluruh keadaan di daerah itu telah membentuk lingkaran keterbatasan yang saling mengunci. Waktu terus berjalan, sementara pertolongan tak pernah benar-benar tiba.

Saya membayangkan, jika orang sekaya itu saja tidak mampu berbuat banyak dalam situasi seperti itu, lalu bagaimana dengan mereka yang hidup pas-pasan? Berapa banyak orang yang selama ini kehilangan kesempatan hidup bukan karena penyakitnya terlalu berat, melainkan karena fasilitas kesehatan belum pernah benar-benar hadir di tempat mereka tinggal?

Kadang kita terlalu mudah menganggap rumah sakit hanya sebagai bangunan, ambulans hanya kendaraan, atau alat medis sekadar benda mahal. Padahal bagi sebagian orang, semua itu adalah garis tipis antara hidup dan kematian.

Namun dari cerita itu, ada sesuatu yang menarik perhatian saya lebih dalam daripada tragedinya sendiri. Orang tersebut tidak berhenti pada kesedihan. Ia menyimpan semacam dendam terhadap keadaan—bukan dendam yang ingin menghancurkan, melainkan dendam yang ingin memperbaiki. Ia bertekad agar daerah itu suatu hari memiliki fasilitas kesehatan yang lebih layak, agar tidak ada lagi orang yang kehilangan nyawa hanya karena alat yang dibutuhkan tidak tersedia.

Di titik itu saya merasa, mungkin memang sering kali penderitaan melahirkan kesadaran yang tidak bisa diajarkan oleh kenyamanan. Luka kadang membuat seseorang melihat kenyataan dengan lebih jernih daripada seribu nasihat.

Barangkali itu pula yang pernah dijelaskan Thomas Aquinas ketika menanggapi argumen bahwa penderitaan membuktikan Tuhan membiarkan manusia sendirian di dunia. Bagi Aquinas, keberadaan penderitaan bukan tanda ketiadaan Tuhan. Justru dari penderitaan itu sering lahir kebaikan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Tentu gagasan ini tidak berarti penderitaan menjadi sesuatu yang harus dirayakan. Tidak ada kehilangan yang terasa indah ketika dijalani. Tidak ada duka yang otomatis menjadi pelajaran saat itu juga. Tetapi mungkin hidup memang memiliki cara yang aneh untuk menumbuhkan makna: bahwa dari satu peristiwa yang menghancurkan, bisa lahir dorongan untuk membangun sesuatu yang menyelamatkan banyak orang setelahnya.

Mungkin Tuhan tidak selalu menghapus penderitaan dari hidup manusia. Tetapi bisa jadi, Ia tidak membiarkan penderitaan berhenti sebagai penderitaan semata. Kadang dari sana muncul keberanian, empati, kesadaran, bahkan perubahan yang sebelumnya tidak pernah ada.

Dan mungkin, di situlah letak harapan manusia yang sebenarnya.


Populer

Menjaring ikan

Sawah hijau

Sehat enak

Apa yang kau cari

Ketergantungan energi

Tema abadi

Haus validasi

Belajar Al-Qur'an

Pergaulan global

Hak guru