Berani bertanya

-(Senin, 1 Juni 2026)-

Ada kalanya saya merasa manusia terlalu cepat menerima sesuatu sebagai kewajaran. Sesuatu diulang terus-menerus, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu perlahan berubah menjadi aturan yang nyaris tak boleh dipertanyakan. Padahal mungkin, kemajuan justru lahir dari keberanian untuk bertanya ulang terhadap hal-hal yang dianggap paling normal.

Saya sering memikirkan hal-hal sederhana semacam ini: mengapa pesawat harus berlari panjang di landasan sebelum akhirnya terbang? Mengapa sebuah benda yang dirancang untuk mengudara justru membutuhkan hamparan beton yang begitu luas hanya untuk bisa meninggalkan tanah? Tidakkah mungkin suatu hari manusia menemukan cara agar pesawat dapat naik secara otomatis tanpa ancang-ancang panjang seperti sekarang? Barangkali pertanyaan itu terdengar naif. Namun bukankah banyak penemuan besar bermula dari pertanyaan yang mula-mula dianggap aneh?

Dari sana pikiran saya bergerak ke hal lain yang tak kalah lazim: birokrasi. Mengapa pelayanan kepada masyarakat harus dibatasi oleh jam kerja yang kaku dan seragam yang monoton? Jika hakikat birokrasi adalah melayani manusia, mengapa yang sering terlihat justru manusia dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem? Seolah-olah aturan lebih penting daripada tujuan awalnya.

Jam kerja yang seragam, pakaian yang seragam, tata cara yang seragam—semuanya tampak seperti upaya besar untuk menciptakan keteraturan. Namun di balik itu, saya sering bertanya: apakah keteraturan selalu identik dengan kebaikan? Ataukah manusia modern memang terlalu takut pada kebebasan sehingga segala sesuatu harus dibuat terukur, tersusun, dan mudah dikendalikan?

Pertanyaan serupa muncul ketika melihat kehidupan sosial manusia. Mengapa pernikahan, ulang tahun, atau berbagai perayaan harus dihadiri begitu banyak orang? Mengapa manusia merasa perlu mengumpulkan keramaian hanya untuk menyaksikan dua orang mengenakan pakaian tertentu, duduk di pelaminan, lalu menerima ucapan selamat berulang-ulang? Bukankah makna kebersamaan tidak selalu harus diwujudkan lewat pesta besar?

Yang lebih mengusik lagi adalah bagaimana bahkan dalam momen kebahagiaan, manusia tetap menciptakan sekat-sekat: tamu VIP dan tamu biasa, kursi depan dan kursi belakang, pelayanan khusus dan pelayanan umum. Seakan-akan perbedaan status harus tetap dipertontonkan bahkan di tengah acara yang katanya merayakan cinta atau kebersamaan.

Saya lalu bertanya pada diri sendiri: mengapa manusia begitu gemar menciptakan pangkat, jabatan, dan hierarki? Mengapa kehidupan harus sedemikian struktural? Mengapa nilai seseorang sering kali ditentukan oleh harta, gelar, atau posisi sosialnya? Padahal pada dasarnya semua manusia lahir dengan tubuh yang rapuh, kebutuhan yang sama, dan akhir kehidupan yang serupa.

Pertanyaan itu membawa saya lebih jauh, pada fondasi kehidupan modern itu sendiri. Mengapa setiap anak harus sekolah bertahun-tahun demi memperoleh ijazah sebelum dianggap layak bekerja? Mengapa masa hidup manusia dihabiskan dalam ruang-ruang belajar yang panjang, terstruktur, dan berjenjang? Apakah pendidikan benar-benar tentang memanusiakan manusia, atau perlahan berubah menjadi mekanisme untuk mencetak tenaga kerja yang sesuai kebutuhan sistem?

Lalu mengapa manusia harus bekerja sedemikian keras demi profesi dan karier tertentu? Bukankah pada masa lampau manusia cukup berburu, bercocok tanam, dan hidup dari alam? Kini manusia bekerja hampir sepanjang hidupnya hanya untuk membeli waktu istirahat yang semakin sempit. Kita membangun peradaban yang luar biasa maju, tetapi ironisnya sering kehilangan kesempatan untuk benar-benar hidup.

Begitu pula dengan negara dan hukum. Mengapa manusia menciptakan negara, lalu membangun aturan yang begitu rumit hingga akhirnya manusia pula yang saling menghukum? Mengapa orang-orang yang bekerja untuk negara justru banyak terjerat korupsi, kekuasaan, atau kriminalitas? Apakah sistem memang diciptakan untuk menjaga manusia, atau justru perlahan menjauhkan manusia dari nuraninya sendiri?

Saya tidak menulis semua ini karena merasa memiliki jawaban. Justru sebaliknya, saya sedang mencoba menjaga keberanian untuk terus bertanya. Sebab mungkin masalah terbesar manusia modern bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan hilangnya keberanian untuk mempertanyakan apa yang sudah telanjur dianggap benar.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar memang bisa mengguncang pikiran. Ia mengusik kenyamanan, mengganggu arus utama, bahkan kadang membuat seseorang tampak seperti orang asing di tengah zamannya sendiri. Namun dari kegoncangan itulah barangkali lahir kesadaran baru—cara pandang yang lebih jernih, lebih manusiawi, dan lebih bebas dari ego serta hasrat menguasai.

Mungkin manusia memang membutuhkan teknologi, negara, pendidikan, pekerjaan, dan aturan. Tetapi semua itu seharusnya tetap menjadi alat, bukan berubah menjadi tujuan. Sebab ketika manusia mulai mengabdi sepenuhnya kepada sistem yang ia ciptakan sendiri, di situlah ia perlahan kehilangan jati dirinya.

Populer

Karya kreatif

Ujian

Paradoks energi

Puas pemerintah

Paradoks hidup

Mata uang

Kekuatan & pilihan

Urgensi Dana Desa untuk Penanganan COVID-19

Politik keberlanjutan

Menunggu terbang