Bus bandara
-(Jumat, 29 Mei 2026)-
Kali ini menjadi pengalaman pertama saya terbang dengan maskapai itu. Dan anehnya, yang paling membekas justru bukan soal pesawatnya, melainkan hal-hal kecil yang terjadi di sekitarnya. Saya tidak sedang menulis kritik ataupun keluhan, sebab memang saya tidak mengalami hal buruk apa pun. Justru ada pengalaman yang terasa lucu, ganjil, sekaligus menarik untuk dikenang.
Saat pengumuman boarding terdengar, saya sedang berada di toilet untuk “meringankan beban”. Saya cukup terkejut karena waktu boarding ternyata diumumkan lebih cepat sekitar tiga puluh menit dari yang tercetak di boarding pass. Seketika saya bertanya dalam hati: apakah maskapai ini sedisiplin itu hingga memulai semuanya jauh lebih awal?
Pertanyaan itu masih menggantung ketika saya ikut mengantre pemeriksaan boarding pass. Jawabannya perlahan muncul saat kami diminta naik bus lebih dahulu sebelum menuju pesawat. Dan di situlah pengalaman unik itu dimulai.
Bus yang kami naiki ternyata menempuh perjalanan cukup jauh. Saya memang tidak sempat mengecek waktu, tetapi rasanya lebih dari sepuluh menit, mungkin bahkan mendekati lima belas menit. Bus itu seperti mengelilingi separuh area bandara yang luasnya terasa nyaris tak berujung. Dari balik jendela, saya melihat sisi lain bandara yang biasanya tak terlihat oleh penumpang: deretan pesawat yang parkir diam seperti paus raksasa, kendaraan operasional yang lalu-lalang, hingga lorong-lorong apron yang selama ini hanya saya lihat sepintas dari kabin.
Belakangan saya baru memahami kemungkinan penyebabnya. Pesawat yang saya tumpangi tampaknya parkir di Terminal 2, sementara kami sebagai penumpang domestik tetap berangkat melalui Terminal 1. Dugaan saya, pesawat itu sebelumnya melayani penerbangan internasional sehingga penempatannya berbeda. Entahlah. Saya tidak benar-benar tahu alasan pastinya. Namun yang jelas, mereka tampaknya sengaja memulai proses boarding lebih awal agar penerbangan tetap bisa berangkat tepat waktu.
Dan bagi saya, perjalanan bus yang cukup lama itu sama sekali bukan masalah. Justru di situlah letak pengalaman barunya. Ada semacam sensasi kecil ketika seseorang dibawa melewati bagian-bagian yang biasanya tersembunyi dari pandangan penumpang biasa. Bandara yang selama ini hanya saya kenal sebagai ruang tunggu dan gerbang keberangkatan, mendadak terasa seperti sebuah kota kecil dengan ritmenya sendiri.
Begitulah cara pengalaman bekerja kadang-kadang. Hal-hal yang tampak remeh justru meninggalkan kesan paling lama. Kita berangkat hanya untuk satu perjalanan, tetapi hidup diam-diam menyelipkan pengalaman lain di dalamnya—seolah memberi bonus cerita yang tidak semua orang dapatkan.