Politik keberlanjutan
-(Selasa, 26 Mei 2026)-
Dalam pandangan saya, dua program besar itu memang membutuhkan waktu panjang untuk memperlihatkan dampaknya secara utuh. Tidak semua kebijakan bisa dinilai hanya dari hitungan bulan atau satu-dua tahun pertama pelaksanaan. Ada program yang memang dirancang seperti menanam pohon: hasilnya tidak langsung terlihat ketika benih baru saja ditanam. Karena itu, ketika hari ini banyak orang buru-buru menyebut program tersebut gagal, mungkin persoalannya bukan semata pada programnya, melainkan pada cara sebagian orang memahami prosesnya yang terlalu pendek dan serba instan.
Dari titik itu, saya mulai melihat bahwa persoalan sebenarnya bukan hanya soal berhasil atau tidaknya program, melainkan bagaimana memastikan program tersebut memiliki umur yang cukup panjang untuk mencapai tujuan akhirnya. Sebab kebijakan besar hampir selalu membutuhkan kesinambungan. Ia tidak bisa hidup hanya dalam satu periode pemerintahan, lalu dipotong di tengah jalan ketika rezim berganti arah. Program sebesar apa pun akan kehilangan makna jika setiap lima tahun sekali harus memulai ulang dari nol, seperti membangun jembatan yang terus dibongkar sebelum sempat menghubungkan dua sisi.
Karena itulah, saya rasa wajar jika pemerintah pada akhirnya berupaya menjaga keberlanjutan kekuasaan atau setidaknya memastikan penerusnya memiliki visi yang sejalan. Di titik ini, politik tidak lagi sekadar soal perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang mempertahankan arah pembangunan yang telah dirancang. Pemerintah tentu akan berusaha meyakinkan masyarakat bahwa hal-hal baik yang mulai dirasakan hari ini hanya bisa berlanjut apabila kepemimpinan sekarang tetap dipertahankan.
Kita mungkin akan melihat bagaimana pemimpin bekerja semakin keras menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat. Bukan semata demi citra, tetapi karena keberhasilan konkret adalah modal politik paling kuat. Ketika masyarakat merasa hidupnya membaik, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Dan dari situ, jalan untuk kembali memenangkan kontestasi politik menjadi lebih terbuka.
Namun di sisi lain, ada dinamika yang menarik sekaligus dilematis. Dua program besar itu perlahan dapat menciptakan semacam ikatan psikologis dalam pilihan politik masyarakat. Orang akan mulai berpikir: jika memilih pemimpin lain dengan visi berbeda, apakah program yang sedang berjalan akan dihentikan? Apakah seluruh anggaran, energi, dan waktu yang sudah dikeluarkan selama ini akan berakhir sia-sia? Kekhawatiran semacam itu pada akhirnya bisa menjadi alasan kuat untuk kembali memilih pemimpin yang sama atau kelompok yang dianggap mampu melanjutkan arah kebijakan tersebut.
Di titik tertentu, pilihan politik masyarakat menjadi tidak sepenuhnya bebas dari pertimbangan keberlanjutan. Ada semacam dorongan yang halus tetapi kuat: memilih perubahan berarti mengambil risiko menghentikan proses yang belum selesai. Dan bagi banyak orang, ketidakpastian sering kali lebih menakutkan daripada melanjutkan sesuatu yang sudah berjalan.
Tetapi mungkin memang seperti itulah realitas politik bekerja. Setiap pemerintahan tidak hanya berusaha membangun program, melainkan juga membangun kemungkinan agar program itu tetap hidup setelah masa kekuasaannya berakhir. Sebab dalam politik, keberlanjutan sering kali sama pentingnya dengan gagasan itu sendiri. Tanpa kesinambungan, bahkan ide terbesar pun bisa berubah menjadi proyek setengah jadi yang akhirnya hanya meninggalkan jejak anggaran dan janji yang tak pernah benar-benar tiba di tujuan.