Ganti suasana
-(Minggu, 24 Mei 2026)-
“Sekian lamanya engkau hidup seorang diri…”
Begitulah lirik lagu Widuri mengalun pelan di telinga saya ketika duduk bersandar pada tiang kayu sebuah rumah yang disulap menjadi resto. Di meja, semangkuk kacang garing menjadi teman menunggu. Saya mengelupasi kulitnya satu per satu, lalu mengunyahnya perlahan, seolah sedang memberi pekerjaan kecil pada waktu agar ia tidak berjalan terlalu lambat.
Siang itu saya menunggunya rapat bersama teman-teman sejawatnya. Beberapa hari terakhir, saya sedang menjalani hidup yang lebih pelan—tanpa tenggat, tanpa bunyi notifikasi pekerjaan yang mendesak untuk segera dijawab. Saya mengambil jeda. Rehat sejenak dari ritme yang biasanya menuntut saya terus bergerak. Dan anehnya, ada kenikmatan tertentu saat melihat orang-orang sibuk bekerja sementara saya duduk santai menikmati waktu.
Namun manusia memang makhluk yang sulit benar-benar diam.
Bahkan ketika berniat berlibur, ia tetap mencari kesibukan lain. Tangannya otomatis membuka media sosial, matanya mencari video YouTube untuk ditonton, atau kakinya membawa tubuhnya pergi ke tempat-tempat yang dianggap mampu mengusir jenuh. Seolah-olah manusia tidak pernah sungguh-sungguh berhenti beraktivitas; ia hanya mengganti bentuk aktivitasnya.
Mungkin itulah yang sebenarnya disebut liburan: bukan berhenti, melainkan berpindah ritme. Dari pekerjaan menuju hiburan, dari tuntutan menuju distraksi yang lebih menyenangkan. Sebab pada akhirnya, pikiran manusia tampaknya memang tidak tahan pada kekosongan.
Saya lalu teringat pada Sisifus—tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihat batu itu jatuh lagi dan mengulang semuanya dari awal. Rutinitas manusia modern kadang tidak jauh berbeda. Kita bekerja, lelah, mencari hiburan, lalu kembali bekerja. Begitu terus, berulang tanpa benar-benar selesai.
Ironisnya, aktivitas baru yang awalnya terasa menyegarkan perlahan juga akan berubah menjadi rutinitas. Liburan yang mula-mula terasa membebaskan, suatu hari bisa berubah menjadi kewajiban baru untuk diabadikan, dibagikan, atau bahkan dipamerkan. Pada titik itu, manusia hanya sedang menciptakan Sisifus versi lain bagi dirinya sendiri.
Karena itu, mungkin yang paling dibutuhkan manusia bukan sekadar liburan atau hiburan, melainkan kemampuan untuk berdamai dengan hidup yang sedang dijalani. Kemampuan menikmati suasana saat ini tanpa terus-menerus merasa harus berada di tempat lain. Sebab rasa jenuh sering kali bukan lahir dari keadaan, melainkan dari hati yang selalu menolak tinggal lebih lama pada apa yang ada di hadapannya.
Begitulah manusia. Ia terus bergumul dengan kebosanan, mencari jalan keluar dari rasa jenuh, lalu tanpa sadar kembali terjebak di lingkaran yang sama. Sampai suatu hari, ia bahkan bosan dengan rasa bosannya sendiri.