Pasar lejen

-(Minggu, 7 September 2025)-

Sudah lama saya menyimpan keinginan untuk masuk ke dalam pasar itu. Satu pasar, yang terletak tepat di depan balai kota, di sebuah kota yang namanya sama dengan istilah untuk seorang penyanyi yang tampil seorang diri.

Namun, kesempatan untuk benar-benar masuk ke pasar itu seolah tak pernah datang. Hingga akhirnya, tanpa rencana, sebuah gagasan tiba-tiba muncul begitu saja. Keinginan lama itu akhirnya terlaksana.

Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi, ketika kami berniat mencari kuliner sarapan di kota ini. Tujuan pertama kami ternyata belum siap menyajikan masakan. Maka kami pun menyusuri jalanan kota sambil mencari referensi tambahan di media sosial. Tiba-tiba, tanpa berpikir panjang, saya menyebutkan nama pasar itu.

Setelah memarkir kendaraan, kami segera mencari pintu masuk. Suasana pagi di dalam pasar mulai hidup. Kami berjalan menyusuri gang-gang sempit dengan kios dan lapak pedagang di kanan kiri. Beberapa warung sudah tampak bersiap, salah satunya warung soto yang juga menyediakan kare. Sayangnya, masakan mereka belum siap dihidangkan.

Saya sempat bertanya kepada pemilik warung, “Buka jam berapa, Pak?”

Beliau menjawab, “Jam tujuh.”

Dari penampilannya, saya melihat mereka adalah pasangan suami istri yang sudah lanjut usia. Meski begitu, wajah mereka tampak sehat dan penuh semangat. Seketika, saya teringat bahwa bagi sebagian orang, terutama para lansia, tidak ada kata pensiun. Mungkin itulah pilihan hidup mereka—tetap berkarya, tetap bekerja. Ini pula yang disebut ikigai—sebuah panggilan hidup yang memberi makna, semangat, dan tujuan. Dalam banyak contoh, justru dengan terus berkarya, para lansia dapat menjaga kesehatan dan kebahagiaan mereka. 

Kami pun melanjutkan pencarian warung makan yang sudah siap. Saya yakin, di pasar tradisional selalu ada kejutan: kuliner sederhana dengan cita rasa tak kalah dibandingkan hidangan di restoran modern. Dan benar saja, kami menemukan sebuah warung soto yang sudah siap melayani pelanggan.

Meski awalnya kami ingin mencicipi jenis kuliner lain, tidak ada salahnya mencoba semangkuk soto khas pasar itu. Kuahnya bening, daging sapinya empuk, dan rasanya segar. Sederhana, tapi nikmat.

Selesai menyantap soto, kami kembali berkeliling mencari jajanan tradisional. Ternyata ada beberapa kios yang menjual beragam jenis dawet, serta panganan seperti gethuk, jadah blondo, dan cenil. 

Sambil mengamati sekitar, saya menyadari bahwa bukan hanya kami yang berkeliling pasar. Ada beberapa pengunjung lain yang juga tampak sedang “berburu” jajanan tradisional. Rupanya, pasar ini bukan sekadar tempat belanja, melainkan juga ruang wisata kuliner yang menyimpan kesederhanaan, kehangatan, dan cita rasa otentik.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"