Sifat serakah
-(Jumat, 5 September 2025)-
Barangkali kita sering bertanya-tanya: dari manakah sifat serakah manusia itu berasal? Apakah ia sudah tertanam secara bawaan (built-in) dalam diri kita, ataukah muncul sebagai hasil proses panjang evolusi?
Dalam film The Hobbit, misalnya, sifat ini digambarkan dengan jelas. Diceritakan bagaimana kakek Thorin, seorang raja bangsa kurcaci, terbuai oleh limpahan emas dan harta. Kekayaan itu membuatnya dipenuhi keserakahan, hingga ia tidak lagi peduli pada kerajaannya. Ketika Bilbo Baggins, sang hobbit, berhadapan dengan Smaug, ia mendengar ucapan sang naga bahwa keserakahan akan tumbuh dalam diri Thorin begitu ia melihat emas yang berlimpah. Dan benar, pada akhirnya Thorin mengingkari janjinya untuk berbagi harta dengan penduduk Lake Town.
Kisah semacam itu tidak hanya hadir dalam fiksi. Dalam sejarah, kita juga kerap mendengar bagaimana keserakahan manusia melahirkan bencana kemanusiaan. Kolonisasi, penjajahan, hingga pengerukan harta dan emas penduduk pribumi Amerika oleh bangsa Eropa adalah bukti nyata bagaimana keserakahan berulang kali merugikan banyak orang.
Artinya, sejak dahulu sifat serakah memang telah bersemayam dalam diri manusia. Bagaimana ia tumbuh dan menguasai seseorang sangat bergantung pada apakah ia terus diberi “makanan” oleh manusia itu sendiri—melalui ambisi dan hasrat yang tidak terkendali.
Agama, dengan ajaran moralnya, barangkali memang dihadirkan untuk menyeimbangkan kecenderungan ini. Ia berfungsi sebagai pengingat dan pengendali agar sifat serakah yang sudah melekat dalam diri manusia tidak berkembang tanpa batas.
Namun, mengandalkan hukum atau aturan moral saja tampaknya tidak cukup. Obat paling mujarab untuk mencegah keserakahan justru adalah empati. Dengan empati, tindakan manusia lahir dari kesadaran yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Ia tidak lagi sekadar tunduk pada aturan, melainkan sungguh-sungguh merasakan kebutuhan dan penderitaan orang lain.
Lalu, bagaimana menumbuhkan empati? Jawabannya adalah pendidikan dan latihan sejak kecil. Anak-anak perlu dibiasakan memahami perasaan orang lain, diajak berbagi, dan dilatih untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Dengan cara itu, mereka akan lebih siap menghadapi godaan keserakahan di masa depan.
Dengan demikian, keserakahan mungkin memang merupakan sifat bawaan manusia. Namun ia bukanlah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan. Melalui empati yang dipupuk sejak dini, manusia dapat menundukkan dorongan serakah, dan menjadikannya energi untuk membangun kehidupan yang lebih adil, seimbang, dan beradab.