Realitas baru

-(Minggu, 28 September 2025)-

Cerita ini saya dengar dari sebuah kuliah di salah satu channel YouTube. Pengajarnya adalah seorang Romo ternama. Pada satu sesi, beliau memberikan contoh sederhana tentang bagaimana realitas dapat lebih cepat mengubah persepsi.

Begini kisahnya. Seorang pemuda selalu ketakutan setiap kali masuk ke kamarnya. Orang tuanya bertanya, “Kenapa kamu takut?” Anak itu menjawab, ada setan di kolong tempat tidurnya. Orang tuanya kemudian membawa sang anak ke psikolog. Namun, meski sudah beberapa kali konsultasi, rasa takut itu tidak juga hilang.

Bapaknya mulai bingung. Padahal, uang berjuta-juta sudah dihabiskan untuk sesi terapi. Akhirnya mereka mencoba ke psikolog lain. Menariknya, hanya dengan satu kali pertemuan, masalah itu selesai. Apa saran psikolog kedua? Sangat sederhana: potong saja kaki-kaki tempat tidur, sehingga tidak ada lagi kolong yang bisa menimbulkan bayangan ketakutan bagi si anak.

Kisah ini memberi pelajaran penting. Sering kali kita berusaha membantu orang lain mengatasi masalah dengan memberi pemahaman abstrak—nasihat, penjelasan, atau penguatan mental. Kadang itu berhasil, tetapi tidak jarang justru kurang efektif. Sebaliknya, perubahan nyata pada realitas dapat bekerja lebih ampuh dalam mengubah persepsi.

Contoh serupa bisa kita lihat dalam kebijakan publik. Menkeu baru, misalnya, mengambil langkah strategis dengan menempatkan dana pemerintah di bank-bank Himbara untuk mendorong pertumbuhan kredit, yang diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini bukan sekadar wacana, melainkan tindakan konkret yang mengubah realitas perekonomian. Dampaknya, persepsi masyarakat pun ikut berubah terhadap langkah pemerintah.

Hal yang sama juga terlihat dari gaya komunikasi sang Menkeu. Gaya “cowboy”-nya—tegas, lugas, humoris dan berbeda dari gaya birokrasi yang kaku—telah mengubah cara publik memandang pejabat negara. Perubahan pada realitas komunikasi inilah yang kemudian membentuk persepsi baru: pejabat bisa tampil otoritatif tanpa kehilangan kedekatan dengan rakyat.

Bahkan, dalam sebuah komentar di channel YouTube yang menampilkan Menkeu itu, seorang penonton menulis bahwa Menkeu telah memunculkan vibes positif hingga membuatnya kembali bersemangat untuk membuka usaha. Komentar sederhana ini memperlihatkan sesuatu yang penting: perubahan realitas pada level elite—baik lewat kebijakan maupun gaya kepemimpinan—ternyata bisa merembes hingga ke level personal masyarakat. Energi yang ditularkan seorang pemimpin mampu membangkitkan kembali harapan individu, menggeser persepsi dari keraguan menjadi keberanian, dari pasif menjadi aktif.

Di sinilah arti penting mengubah persepsi. Persepsi adalah pintu masuk bagi tindakan. Seseorang yang terjebak dalam persepsi negatif akan sulit bertindak, meski peluang sebenarnya terbuka. Sebaliknya, ketika persepsi berubah menjadi lebih positif, energi, keyakinan, dan keberanian untuk melangkah pun ikut tumbuh. Dengan kata lain, mengubah persepsi berarti membuka kemungkinan baru, baik bagi individu maupun bagi masyarakat luas.

Maka, kita bisa simpulkan: mengubah realitas bukan hanya soal menghadirkan kebijakan atau tindakan nyata, tetapi juga soal menciptakan getaran yang bisa mengubah cara orang memandang dirinya, lingkungannya, dan masa depannya. Dari situlah lahir perubahan yang lebih besar.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"