Harga waktu
-(Senin, 29 September 2025)-
Earl Stone adalah seorang pria tua berusia 80-an. Dahulu, ia dikenal sebagai pengusaha bunga yang sukses. Namun, kejayaan itu tidak bertahan lama. Bisnisnya bangkrut, hidupnya runtuh, dan yang lebih menyedihkan, hubungannya dengan keluarga pun hancur. Earl terlalu sibuk mengejar karier hingga lupa pada mereka yang seharusnya paling ia utamakan. Ia bahkan lebih memilih menghadiri acara penghargaan atas karyanya ketimbang mendampingi putrinya sendiri di hari pernikahannya.
Dalam keterpurukan finansial, kesempatan tak terduga datang. Earl mendapat tawaran pekerjaan sebagai “sopir.” Tanpa ia sangka, pekerjaan itu ternyata adalah menjadi kurir narkoba bagi kartel Meksiko. Anehnya, usia tuanya justru menjadi keuntungan. Dengan penampilan yang tidak mencurigakan, Earl berhasil menjadi kurir paling andal. Ia mampu mengangkut ratusan kilogram kokain tanpa tersentuh hukum.
Uang yang ia peroleh dimanfaatkannya untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama putrinya yang selama ini ia abaikan. Namun, semakin lama, tekanan dari kartel kian berat, sementara pihak berwenang juga mulai membuntutinya. Hingga akhirnya, Earl tertangkap. Di pengadilan, ia mengakui semua kesalahannya, menerima tanggung jawab, dan dijatuhi hukuman penjara. Meski harus menghabiskan sisa hidup di balik jeruji, ia merasa lebih damai karena akhirnya memilih jujur serta berusaha menebus kesalahannya terhadap keluarga.
Kisah Earl diatas adalah cerita film The Mule, yang diangkat dari kisah nyata. Saya kira film ini tak hanya menghibur, tapi juga sarat akan pelajaran hidup. Lantas, pelajaran apa yang bisa kita petik?
Pertama, semangatnya untuk tetap bekerja di usia senja patut diapresiasi. Meski salah arah, ada tekad kuat dalam dirinya untuk tetap berdaya guna.
Kedua, ia menyadari kesalahannya terhadap keluarga. Uang yang ia peroleh memang berasal dari jalan keliru, tetapi di balik itu, ada niat untuk memperbaiki hubungan yang selama ini retak.
Ketiga, ada pesan yang begitu kuat: uang bisa membeli banyak hal, tetapi tidak bisa membeli waktu. Earl tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki sikapnya, meski kini ia mampu membeli apa pun yang ia inginkan.
Keempat, kisah ini menegaskan bahwa pilihan hidup selalu memiliki konsekuensi. Tidak ada jalan pintas tanpa risiko. Apa yang tampak sebagai solusi instan bagi kesulitan finansial, justru bisa berakhir pada penyesalan panjang.
Begitulah, sebuah film yang bukan hanya menyajikan drama kriminal, tetapi juga refleksi kehidupan. Betapa berharganya waktu, yang sering kita sia-siakan hanya untuk mengejar sesuatu yang kita kira penting. Padahal, yang paling dibutuhkan oleh keluarga bukanlah harta semata, melainkan kebersamaan dan kehadiran kita di tengah-tengah mereka.