Kebutuhan dasar

-(Kamis, 25 September 2025)-

Setiap pagi, ketika saya berjalan kaki menyusuri jalanan utama kota ini, saya menyaksikan pemandangan yang berulang: para pekerja tambang berangkat menuju tempat kerja. Ada bus dan mobil yang mengangkut mereka. Beberapa orang berdiri di tepi jalan, menunggu jemputan. Di sekitar warung mobil, terlihat pula beberapa pekerja yang menyempatkan diri sarapan sambil menanti kendaraan tumpangan.

Pemandangan ini bukan peristiwa sekali-sekali, melainkan rutinitas harian. Sama halnya dengan langkah kaki saya yang berulang setiap pagi, juga dengan pegawai kantoran yang berangkat kerja setiap hari kerja. Bahkan, jika dipikirkan lebih jauh, rutinitas itu mirip dengan matahari yang selalu terbit di timur, bergerak ke barat, lalu tenggelam pada waktunya.

Pertanyaan pun muncul: sampai kapan para pekerja tambang menjalani rutinitas semacam ini? Persis sama dengan pertanyaan: sampai kapan para pegawai kantoran berhenti bekerja? Tentu jawabannya sederhana: sampai mereka pensiun—baik karena aturan yang berlaku maupun karena keputusan pribadi.

Namun, pertanyaan lain yang lebih mendasar justru muncul: mengapa manusia harus bekerja setiap hari?

Jawaban normatif sudah jelas: untuk mencari uang, memenuhi kebutuhan hidup, dan menafkahi keluarga. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, bekerja bukan semata-mata urusan materi. Ada kebutuhan yang lebih hakiki, sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan sudah ditakdirkan untuk dipenuhi: kebutuhan akan aktualisasi diri. Tanpa itu, hidup terasa kosong, hampa, dan kehilangan makna.

Abraham Maslow dengan jenius pernah merumuskannya dalam piramida kebutuhan manusia. Aktualisasi diri menempati puncak hierarki, bukan karena kemewahan, melainkan karena ia merupakan kebutuhan yang menentukan rasa hidup itu sendiri.

Maka, sebagaimana konsep “empat sehat lima sempurna” telah direvisi menjadi “gizi seimbang,” di era modern ini kita pun perlu merevisi rumusan kebutuhan pokok manusia. Tidak lagi cukup hanya pangan, sandang, dan papan. Ada satu kebutuhan yang tak boleh diabaikan: aktualisasi diri.

Implikasinya besar. Jika pangan, sandang, dan papan diakui sebagai hak dasar warga negara, maka aktualisasi diri pun seharusnya masuk dalam kategori yang sama. Negara, dengan demikian, berkewajiban memikirkan dan memenuhi keempat kebutuhan ini. Sehingga tercipta masyarakat yang sejahtera, bermartabat, dan utuh sebagai manusia.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"