Kebiasaan Langgar

-(Jumat, 19 September 2025)-

Bagaimanapun, setiap masjid, mushola atau langgar punya tata cara dan kebiasaan masing-masing. Setidaknya, dalam seminggu saya biasa sholat berjamaah di lima masjid atau mushola yang berbeda. Dari situ saya merasakan bagaimana perbedaan kecil dalam mengatur iqomat bisa menghadirkan pengalaman yang juga berbeda.

Ada satu masjid yang sangat disiplin dalam urusan iqomat. Di sana dipasang jam besar dan timer menuju iqomat, yang bisa dilihat oleh semua jamaah. Kehadiran timer ini memberi tanda sekaligus informasi penting. Misalnya, ketika waktu iqomat masih agak lama, itu seperti memberi isyarat: silakan sholat sunnah lebih dulu. Tapi kalau waktu tersisa hanya satu menit, isyaratnya jelas: sebaiknya cukup berdoa atau berdzikir saja.

Kedisiplinan masjid ini betul-betul tegas. Walaupun semua jamaah sudah selesai sholat sunnah dan hanya menunggu, petugas tetap tidak akan melantunkan iqomat sebelum timer berbunyi. Sebaliknya, meskipun masih ada jamaah yang sholat sunnah, begitu timer berbunyi, petugas langsung berdiri dan melantunkan iqomat. Tidak ada tawar-menawar.

Berbeda dengan sebuah mushola yang biasa saya datangi setiap Isya dan Subuh. Di mushola ini juga dipasang timer, tapi tidak dijadikan aturan mutlak. Ketika jamaah sudah siap, biasanya petugas akan langsung melantunkan iqomat, meski timer masih menunjukkan sisa dua menit. Rupanya, petugas lebih berpatokan pada dzikir dan doa yang ia baca sebelum sholat. Begitu selesai, ia pun berdiri dan mengumandangkan iqomat, tanpa menunggu timer berbunyi. Pola seperti ini membuat sholat berjamaah terasa lebih cepat dimulai, dan itu pula alasan saya lebih sering memilih mushola ini.

Berbeda lagi dengan mushola lainnya, yang kerap saya datangi ketika sholat Maghrib. Mushola ini tidak menggunakan timer sama sekali. Semua bergantung pada keberadaan imam dan kondisi jamaah. Jika imam belum datang, iqomat ditunda. Jika ada jamaah yang masih sholat sunnah, iqomat juga ditunggu sampai selesai. Kebiasaan ini kadang tidak dipahami oleh jamaah baru yang singgah, sehingga mungkin saja langsung sholat sunnah padahal jamaah lain sudah siap menunaikan sholat fardhu. Akibatnya, jamaah lain menunggu sampai orang itu selesai. Tapi, kalau sudah terlalu lama, petugas kadang melantunkan iqomat saat orang itu masih duduk tahiyat akhir.

Dari pengalaman di tiga tempat ibadah itu, saya jadi belajar untuk menyesuaikan diri. Dengan memahami kebiasaan tiap masjid atau mushola, kita bisa mengurangi rasa tidak nyaman yang muncul ketika situasi tidak sesuai harapan. Karena memang, perasaan kita terkadang naik-turun akibat hal-hal kecil seperti ini.

Maka, dengan memahami kebiasaan tiap tempat, kita bisa lebih siap, lebih tenang, dan menyesuaikan diri dengan karakter kita masing-masing.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"