Jalan menulis
-(Sabtu, 27 September 2025)-
Dua hari kemarin saya melakukan sebuah percobaan aneh: berjalan kaki sambil menulis. Ternyata, percobaan itu berhasil.
Percobaan ini berangkat dari pemikiran bahwa waktu jangan sampai terbuang percuma hanya untuk berjalan kaki. Meski demikian, mungkin pemikiran ini keliru, sebab pada dasarnya tidak ada waktu yang terbuang ketika kita berolahraga. Olahraga justru merupakan investasi bagi kesehatan kita.
Tetap saja, saya ingin mencobanya. Tentu hal ini tidak mungkin dilakukan di jalan raya. Bisa-bisa malah membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Bagaimanapun, baik berjalan kaki maupun berlari di jalan raya menuntut fokus dan kewaspadaan, terutama terhadap kendaraan. Bahkan ada yang mengatakan sebaiknya kita berjalan atau berlari melawan arus, agar lebih jelas melihat apa yang ada di depan, tanpa harus khawatir kendaraan datang dari belakang.
Karena itu, saya memilih sebuah tanah lapang yang sepi, tanpa kendaraan. Di situlah saya berjalan berkeliling, berputar-putar sambil menuliskan apa yang ingin saya tulis. Hasilnya, dalam dua hari itu saya berhasil menulis dua tulisan.
Namun, ada hal lain yang saya rasakan. Saya menjadi tidak lagi sadar pada langkah kaki dan aktivitas berjalan itu sendiri. Fokus saya sepenuhnya tertuju pada tulisan. Dengan kata lain, otak dan pikiran kita tampaknya sulit benar-benar melakukan multitasking. Satu aktivitas hampir selalu membuat aktivitas lain terdistraksi.
Akhirnya, saya menyadari bahwa semua kembali pada pilihan. Apakah saya ingin menikmati jalan kaki dengan penuh kesadaran—mindfulness—atau memilih multitasking dengan tetap menulis sambil berjalan. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika waktu terasa sempit, di mana saya tetap ingin berolahraga sekaligus menulis, percobaan aneh ini bisa menjadi aktivitas menarik yang memungkinkan kedua keinginan itu terwujud.