Pertarungan subuh
-(Kamis, 18 September 2025)-
Tiba-tiba saja gerimis turun menjelang waktu subuh. Seingat saya, baru kali ini terjadi. Hari-hari sebelumnya tidak pernah ada hujan pada waktu yang sama. Padahal saya sudah bersiap berangkat menuju langgar.
Anehnya, peristiwa ini juga sempat terjadi menjelang maghrib kemarin. Seolah-olah ada sebuah ujian kecil yang datang berulang: apakah saya akan tetap berangkat ke mushola, atau memilih shalat sendiri di rumah. Secara fikih, hujan memang alasan yang sah untuk bertahan di rumah. Namun, rasa tidak nyaman itu tetap hadir—seperti ada bisikan halus yang menuduh, “Ah, lemah sekali. Gerimis begini saja sudah takut. Padahal ada pahala yang lebih besar bila kau tetap melangkah.”
Tetapi saya sadar, persoalannya bukan hanya soal gerimis. Ada sisi malas yang turut bermain, menggoda dengan argumen yang tampak masuk akal: “Tidak apa-apa, shalat di rumah saja. Lagipula, kalau hujan bertambah lebat, kau bisa basah kuyup, masuk angin, lalu sakit.”
Di titik itulah saya merasakan pertarungan dalam diri: antara rasa takut, alasan logis, dan dorongan iman. Ego pun ikut campur, dengan suara khasnya yang angkuh: “Masa iya kalah hanya karena gerimis? Gengsi dong. Apa kata dunia kalau kau menyerah begitu saja?” Ironis memang—ego yang sering jadi sumber kerunyaman, kali ini justru memaksa saya untuk tidak tunduk pada rasa malas.
Dan entah bagaimana, tubuh ini tiba-tiba berdiri. Saya mengangkat tangan, takbiratul ihram, dan memulai shalat sunnah fajar. Ada energi baru yang muncul. Rasa lemah itu perlahan terkikis. Selesai dua rakaat itu, langkah saya terasa lebih ringan. Saya pun bergegas menuju langgar, meski gerimis masih turun tipis.
Sesampainya di sana, saya merasakan kelegaan. Pertempuran batin baru saja terjadi, dan untuk kali ini, saya tahu siapa pemenangnya. Gerimis hanyalah pengalih perhatian. Yang sesungguhnya diuji adalah konsistensi diri: apakah saya mampu menundukkan rasa malas dengan keyakinan, atau justru menyerah pada bisikan yang terdengar logis tapi sesungguhnya menipu.
Mungkin inilah hakikat dari ujian-ujian kecil yang kerap kita jumpai: bukan sekadar persoalan hujan, jarak, atau rasa lelah, melainkan soal siapa yang berkuasa dalam diri kita.