Generasi bergizi

-(Sabtu, 6 September 2025)-

Mudah-mudahan para guru tidak hanya mengawasi pembagian paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memberikan pemahaman kepada murid mengenai komposisi makanan bergizi. Dengan begitu, anak-anak tidak sekadar menyantap makanan tersebut, melainkan juga memahami pentingnya gizi seimbang bagi tubuh mereka.

Harapannya, program MBG mampu menumbuhkan kebiasaan sekaligus kegemaran anak-anak untuk mengonsumsi makanan bergizi. Lebih jauh, program ini bisa menjadi titik balik dalam membentuk generasi baru—dari yang selama ini, kita sebut saja generasi karbo menuju generasi bergizi.

Mengapa bisa disebut “generasi karbo”? Mari kita amati pola makan masyarakat saat ini. Tidak sedikit orang yang piring makannya lebih banyak dipenuhi karbohidrat. Contoh sederhana, seporsi mie dengan lauk gorengan berbahan dasar sama seperti mie itu sendiri, lalu ditutup dengan es teh manis. Bukankah hampir semuanya karbohidrat?

Belum lagi jajanan yang beredar di sekitar kita. Namanya boleh beragam, tetapi bahan dasarnya tetap sama: tepung dan gula—dua sumber utama karbohidrat. Akibatnya, asupan protein, vitamin, dan mineral sering kali terabaikan.

Jika dilihat dari sisi lain, kondisi ini menggambarkan betapa “kuatnya” masyarakat kita. Bagaimana tidak? Tubuh dipenuhi energi hasil dari karbohidrat. Tak heran bila banyak orang tampak penuh tenaga untuk berlari, berteriak, bahkan ikut dalam berbagai aksi massa. Namun, energi semata tidak cukup untuk membangun kualitas berpikir, perilaku, dan kesehatan emosional.

Intuisi saya mengatakan, pola konsumsi ini sangat mungkin memengaruhi cara kita bertindak, berpikir, dan bereaksi. Selama makanan yang masuk sebagian besar hanya berupa karbohidrat, hasilnya pun tidak jauh berbeda: energi besar, tetapi kualitas gizi rendah. Maka, jika kita ingin melahirkan generasi yang lebih baik, asupan atau input yang diberikan tentu harus berbeda. Prinsipnya sederhana: input – proses – output. Jika input sama, hasilnya akan sama. Jika input berubah, hasilnya pun akan berbeda.

Di sinilah letak pentingnya program MBG. Namun, penyediaan makanan bergizi gratis saja tidak cukup. Badan Gizi juga perlu menjalankan edukasi dan kampanye yang menyeluruh mengenai arti penting gizi seimbang. Jangan sampai anak-anak di sekolah sudah mendapat pemahaman, tetapi orang tua di rumah masih bertahan pada pola lama.

Apalagi, lembaga yang bertanggung jawab langsung bernama Badan Gizi. Itu artinya, sasarannya bukan hanya anak sekolah, melainkan seluruh lapisan masyarakat. Memang berat, tetapi tanpa langkah awal yang nyata, cita-cita emas bangsa akan terus terhambat. Mungkin benar adanya, bahwa perjalanan menuju generasi emas harus dimulai dari hal paling mendasar: apa yang kita makan setiap hari.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"