Batman vs Joker
-(Senin, 8 September 2025)-
Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, bahkan setiap tahun, kita berupaya keras mendorong akselerasi belanja pusat dan daerah agar tidak menumpuk di ujung tahun. Namun kenyataannya, dari tahun ke tahun, upaya ini seolah tak pernah benar-benar berhasil. Meski ada perbaikan di sana-sini, kondisinya belum banyak berubah: realisasi anggaran masih menumpuk di akhir tahun.
Lalu, untuk apa sebenarnya semua upaya itu jika hasilnya tetap sama? Situasi ini seakan menciptakan sebuah absurditas kerja.
Barangkali kondisi ini mirip dengan kisah Sisyphus dalam mitologi Yunani: tokoh yang terus mendorong batu ke puncak bukit meski pasti akan jatuh kembali. Upaya yang sia-sia, tapi terus diulang. Dari sinilah muncul pertanyaan: apakah kita akan terus mendorong batu itu dengan tekad, atau sekadar menertawakan absurditasnya?
Untuk memahami sikap yang mungkin diambil, kita bisa bercermin pada dua tokoh fiksi yang kontras: Batman dan Joker.
Batman tahu kejahatan tidak akan pernah habis, tapi ia terus melawan. Itu bentuk pemberontakan terhadap absurditas. Begitu pula kita: sadar bahwa mendorong akselerasi belanja akan selalu menemui kebuntuan, tapi tetap mencobanya dengan berbagai cara dan inovasi. Kita memberi makna pada upaya itu dan mencoba membayangkan bahwa kita tetap bisa bahagia melakukannya—sebagaimana Sisyphus yang, kata Camus, harus dibayangkan bahagia dengan bebannya. Batman, dalam hal ini, mewakili birokrat yang teguh pada tugas dan keyakinan bahwa kerja keras akan memberi nilai, meski hasil akhirnya tak sempurna.
Bagaimana dengan Joker? Ia memandang dunia sebagai kekacauan: absurditas tanpa tujuan. Bagi Joker, aturan, moral, dan keadilan hanyalah ilusi buatan manusia. Ia tidak sekadar jahat karena motif pribadi, melainkan ingin semua orang ikut menertawakan absurditas bersamanya. Jika kita memilih tokoh ini sebagai rujukan, maka respons atas akselerasi belanja hanyalah tertawa. Karena toh, apa pun yang dilakukan, hasilnya akan tetap sama: tidak berubah, tidak membaik, dan selalu menumpuk di akhir tahun.
Joker, dalam konteks ini, merepresentasikan sikap sinis dan apatis: menerima absurditas dengan tawa, tanpa lagi mencoba melawannya.
Akhirnya, kita sampai pada pilihan reflektif: apakah kita ingin menjadi Batman yang terus melawan meski tahu hasilnya mungkin sia-sia, atau menjadi Joker yang menertawakan absurditas sambil melepaskan semua harapan perubahan?