Manusia berlomba
-(Kamis, 28 Mei 2026)-
Percayalah, setiap manusia menyimpan kecemburuannya sendiri terhadap manusia lain. Barangkali bentuknya berbeda-beda, tetapi akarnya sama: ego, keinginan, dan hasrat untuk menjadi lebih unggul dibanding orang lain. Ada dorongan yang diam-diam bekerja dalam diri manusia—dorongan untuk menang, diakui, dan berdiri sedikit lebih tinggi daripada sekitarnya.
Mungkin karena itulah sejak dahulu manusia terus berperang. Bukan semata demi wilayah atau kekayaan, melainkan demi sebuah rasa bernama kejayaan: kepuasan melihat diri berada di atas kelemahan pihak lain. Di balik bendera, ideologi, dan slogan-slogan besar, sering kali tersembunyi naluri yang sangat purba—keinginan untuk berkuasa.
Saya melihatnya sebagai sisi gelap manusia yang sebenarnya menarik untuk diamati. Sesuatu yang, sadar atau tidak, terus bergerak di bawah permukaan hubungan sosial kita. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak tenang, sisi itu masih hidup dalam bentuk yang jauh lebih halus. Ia tidak lagi hadir sebagai peperangan bersenjata, melainkan sebagai perlombaan citra, pencapaian, dan pengakuan.
Kadang saya membayangkan saat seseorang mengunggah foto atau video tentang keberhasilan yang ia raih. Sebagian orang mungkin benar-benar ikut senang. Namun sering kali, di sela ucapan selamat dan ikon tepuk tangan, ada rasa kecil yang sulit diakui: iri. Ada perasaan tertinggal yang kini populer disebut FOMO—takut menjadi orang yang tidak ikut berhasil, tidak ikut bersinar, atau tidak ikut dianggap penting.
Sebagian lainnya memilih diam. Mereka hanya melihat tanpa memberi respons apa pun. Tetapi diam bukan berarti tanpa reaksi. Sebab manusia tidak selalu menunjukkan isi hatinya melalui kata-kata. Ada yang tersenyum sambil membandingkan, ada yang memuji sambil merasa kalah, ada pula yang perlahan menjauh karena pencapaian orang lain terasa seperti ancaman bagi harga dirinya sendiri.
Dan saya pun tidak berbeda. Ketika melihat orang lain memamerkan prestasi, kadang muncul rasa iri yang sulit ditolak. Perasaan itu bisa tumbuh menjadi ketidaksukaan yang bahkan tidak sepenuhnya rasional. Seolah keberhasilan orang lain diam-diam sedang mengukur kekurangan diri kita sendiri.
Mungkin memang begitulah manusia. Kita hidup berdampingan, tetapi pada saat yang sama juga saling berlomba. Persaingan itu kadang tampak jelas, kadang begitu samar hingga semua terlihat baik-baik saja di permukaan. Namun di balik senyum, dukungan, dan interaksi yang tampak hangat, selalu ada pertarungan kecil di dalam batin masing-masing: pertarungan untuk merasa lebih berarti daripada yang lain.