Lansia muda

-(Jumat, 10 Juli 2026)-

Ketika mendengar kabar seorang teman lama memasuki masa pensiun, saya sempat terhenyak. Ada semacam jeda yang tiba-tiba muncul dalam kesadaran saya—seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk memperlihatkan satu kenyataan yang selama ini berjalan diam-diam. Waktu ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang saya rasakan.

Dulu, kami pernah berada di satu tempat yang sama, menjalani hari-hari dengan ritme yang terasa biasa saja. Anehnya, meski semua itu telah berlalu begitu lama, bayangannya di kepala saya masih begitu jelas. Ingatan itu terasa dekat, nyaris seperti peristiwa kemarin sore. Barangkali memang begitulah cara kenangan bekerja: ia membekukan masa lalu dalam bentuk yang nyaris utuh, sementara tubuh kita diam-diam terus bergerak menuju usia yang tak bisa ditawar.

Maka, ketika mendengar teman lama itu pensiun, yang sebenarnya mengejutkan saya bukanlah kabar tentang dirinya. Yang mengejutkan adalah pantulan kabar itu pada diri saya sendiri. Jika ia sudah pensiun, berarti masa pensiun saya pun tak akan lama lagi. Dan jika masa itu semakin dekat, artinya saya pun sedang bergerak menuju fase yang dahulu hanya saya lihat pada orang-orang yang lebih tua—masa lansia.

Kesadaran itu datang lagi ketika tanpa sengaja saya melihat sebuah thumbnail podcast di YouTube. Saya tahu pembawa acaranya seusia dengan saya. Namun di sana tertulis satu kata yang membuat saya terpaku: lansia. Satu kata sederhana, tetapi terasa seperti cermin yang tak bisa saya hindari. Ternyata, kenyataan itu sudah sampai di depan pintu.

Sejak saat itu, pikiran saya seperti ditarik mundur ke masa lalu. Saya terlempar pada tahun-tahun ketika tubuh masih ringan, energi seolah tak berbatas, dan masa depan tampak seperti hamparan luas yang belum tersentuh. Saya mulai menghitung—atau mungkin lebih tepatnya, mengaudit—apa saja yang telah saya capai hingga hari ini. Apa yang berhasil saya raih, dan apa yang justru saya lewatkan.

Di titik itu, penyesalan sempat muncul. Saya menyadari betapa berharganya waktu, tetapi ironisnya, nilai waktu sering baru terasa ketika sebagian besar darinya telah berlalu. Masa muda, rupanya, adalah kemewahan yang sering tidak kita sadari saat masih memilikinya. Dan seperti semua hal berharga, ia baru terasa mahal setelah pergi.

Tentu, bagian dari diri saya masih ingin menolak kenyataan itu. Ada keinginan yang mungkin terdengar kekanak-kanakan: andaikan ada portal untuk kembali ke masa lalu. Atau setidaknya, menemukan cara agar tubuh tetap muda meski usia terus bertambah. Mungkin semacam mata air awet muda seperti yang diceritakan dalam film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides.

Namun, saya tahu keinginan itu sesungguhnya bukan tentang kembali ke masa lalu. Yang saya rindukan adalah rasa—rasa kuat, rasa segar, rasa percaya diri yang dulu begitu alami. Sebab menjadi tua bukan semata perkara angka usia, melainkan juga tentang bagaimana perlahan kita menyadari tubuh mulai berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Kini saya kadang menatap wajah saya lebih lama di cermin. Ada rambut yang mulai memutih. Ada garis-garis halus yang dulu tidak ada. Wajah berubah, meski pelan. Dan di sanalah saya merasakan sesuatu yang lebih sunyi daripada kerutan itu sendiri: rasa percaya diri yang perlahan terkikis.

Meski demikian, saya tidak ingin menyerah pada waktu. Saya mulai memahami bahwa barangkali tujuan hidup bukan melawan usia, melainkan berdamai dengannya tanpa kehilangan vitalitas. Karena itu saya berusaha menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar. Saya rutin berolahraga—berjalan pagi atau bersepeda. Saya juga berusaha mengurangi konsumsi karbohidrat berlebih, memperbanyak protein, sayuran, dan buah.

Selain itu, saya mencoba menjalani puasa Dawud untuk menjaga berat badan sekaligus melatih disiplin diri. Saya mulai bertanya: mungkinkah ikhtiar-ikhtiar semacam ini membuat seseorang tetap awet muda?

Mungkin pertanyaan itu sendiri perlu diperiksa ulang. Barangkali awet muda bukan berarti menolak penuaan biologis. Rambut putih mungkin tetap datang. Kerutan mungkin tetap muncul. Usia akan terus berjalan. Tetapi mungkin awet muda berarti sesuatu yang lain: menjaga tubuh tetap berfungsi baik, pikiran tetap jernih, rasa ingin tahu tetap hidup, dan hati tetap lentur menerima perubahan.

Jika demikian, puasa sunnah mungkin tidak secara ajaib menghentikan jam biologis. Namun ia bisa membantu merawat hal-hal yang lebih mendasar: metabolisme yang lebih terjaga, pola makan yang lebih terkendali, disiplin yang lebih kuat, dan hubungan batin yang lebih tenang. Dan bukankah ketenangan juga punya wajahnya sendiri?

Pada akhirnya, mungkin yang paling menua bukan tubuh, melainkan semangat yang berhenti bertumbuh.

Usia memang terus bertambah. Itu tak terelakkan. Tetapi menjadi tua tidak selalu berarti kehilangan kehidupan. Mungkin justru di fase ini kita belajar sesuatu yang dulu tak kita pahami saat muda: bahwa waktu bukan musuh yang harus dilawan, melainkan sahabat yang mengajarkan batas, makna, dan penerimaan.

Dan mungkin, bentuk awet muda yang paling sejati adalah ketika seseorang tetap mampu memelihara gairah hidup—meski rambut memutih, meski wajah berubah, meski kalender terus berganti.

Populer

KUR malam minggu

Motivator backoffice

Rebahaner

Sidak Pemimpin

Pergaulan global

Optimisme

Filsafat otodidak

Defisit Kalori

Karya kreatif

Memori tradisi