Warisan kota
-(Sabtu, 4 Juli 2026)-
Pagi itu, gowes saya membawa saya ke sebuah masjid yang berdiri di dalam teluk. Tidak persis di tengah, tetapi cukup jauh menjorok ke perairan sehingga kehadirannya langsung terasa ganjil sekaligus memikat—seolah bangunan itu sengaja ditempatkan untuk menantang batas antara daratan dan laut.
Masjid itu berdiri di atas deretan tiang pancang yang tertanam dalam laut. Dari kejauhan, tiang-tiang itu tampak kokoh dan jumlahnya pun tidak sedikit. Melihat struktur penyangganya saja sudah cukup untuk membayangkan betapa besar kerja teknis yang dibutuhkan agar bangunan sebesar itu dapat berdiri stabil di atas air.
Karena posisinya berada di dalam teluk, tentu dibutuhkan akses menuju lokasi: jalan, area parkir, dan fasilitas penunjang lainnya. Maka reklamasi pun menjadi keniscayaan. Saat memandang keseluruhan kawasan itu, saya membayangkan biaya yang telah dihabiskan pasti sangat besar. Sulit membangun sesuatu sebesar itu tanpa visi yang juga besar.
Saya membayangkan penggagasnya barangkali tidak sekadar ingin membangun sebuah tempat ibadah. Mungkin ada hasrat untuk meninggalkan jejak—sebuah legacy. Sesuatu yang kelak setara dengan monumen-monumen besar seperti Monumen Nasional atau Masjid Istiqlal: bangunan yang melampaui fungsi fisiknya, lalu menjelma menjadi simbol kota dan penanda zaman.
Dan saya bisa memahami ambisi itu. Lokasinya yang unik membuat masjid ini punya daya tarik yang kuat. Orang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk menikmati ruang publik di sekitarnya. Ada kawasan wisata, deretan lapak dan kios UMKM, ruang-ruang yang jelas dirancang agar ekonomi lokal ikut bergerak. Namun pagi itu semuanya tampak lengang. Kios-kios masih tertutup, sunyi seperti panggung yang menunggu pertunjukan dimulai.
Saya juga melihat masih ada bagian kawasan yang terasa belum selesai, atau mungkin lebih tepat disebut belum terwujud sepenuhnya. Seolah pernah ada rencana yang lebih besar—fasilitas tambahan, ruang publik yang lebih hidup, atau ekosistem wisata yang lebih lengkap—tetapi sebagian visi itu berhenti di tengah jalan.
Di titik itulah pikiran saya bergeser dari kekaguman menuju sesuatu yang lebih reflektif: membangun memang sulit, tetapi memelihara sering kali jauh lebih sulit.
Bangunan besar hampir selalu lahir dari energi besar—gagasan, ambisi, uang, dan kekuasaan. Tetapi setelah peresmian usai dan sorotan meredup, yang tersisa adalah pekerjaan sunyi bernama perawatan. Di situlah banyak warisan mulai rapuh, bukan karena usia, melainkan karena perhatian yang memudar.
Barangkali faktor biaya menjadi alasan utama. Perawatan infrastruktur sebesar itu jelas tidak murah. Namun sering kali persoalannya bukan semata anggaran. Ada ego, pergantian kepemimpinan, perubahan prioritas, atau pertimbangan politik yang membuat sebuah warisan kehilangan penerus yang mau merawatnya. Penggagasnya boleh memiliki visi besar, tetapi belum tentu generasi setelahnya memiliki komitmen yang sama.
Padahal warisan, seperti juga ingatan, hanya hidup sejauh ada yang bersedia menjaganya.
Saya paham bahwa pembangunan proyek besar—terlebih yang memakai dana publik—sering melahirkan kontroversi. Kritik terhadap biaya, prioritas, dan urgensinya adalah hal yang wajar. Namun ketika bangunan itu telah berdiri dan menjadi bagian dari wajah kota, perdebatan semestinya tidak berhenti pada soal “dulu layak atau tidak dibangun”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah warisan itu ada, apakah kita cukup dewasa untuk merawatnya?
Sebab sebuah kota tidak hanya dikenang dari apa yang berhasil ia bangun, tetapi juga dari apa yang sanggup ia pelihara. Warisan bukan sekadar soal meninggalkan sesuatu yang megah, melainkan memastikan sesuatu itu tetap bermakna bagi mereka yang datang setelah kita.