Piala dunia

-(Kamis, 23 Juli 2026)-

Pagi itu, ketika banyak orang memilih menatap layar untuk menyaksikan final Piala Dunia, saya justru memilih mengayuh sepeda. Entah karena hampir semua orang berkumpul di depan televisi, atau memang karena hari masih terlalu pagi, jalanan terasa lebih lengang daripada biasanya. Ada ketenangan yang sulit ditemukan pada hari-hari lain, seolah kota sedang menahan napas sambil menunggu siapa yang akan menjadi juara.

Di beberapa sudut kota, saya melihat kerumunan orang menonton pertandingan bersama. Ada yang berkumpul di warung kopi, ada yang memenuhi kafe, ada pula yang berdesakan di depan televisi seadanya. Mereka larut dalam pertandingan yang mempertemukan Argentina dan Spanyol—dua negara yang letaknya ribuan kilometer dari tempat kami berdiri. Namun, jarak rupanya tidak pernah menjadi penghalang bagi rasa memiliki. Ketika sebuah tim menang, para pendukungnya di sini akan ikut bersorak seolah kemenangan itu juga milik mereka.

Saat itu saya hanya melintas. Saya tidak tahu siapa yang akhirnya keluar sebagai juara.

Baru ketika perjalanan pulang, jawabannya saya temukan di jalanan. Rombongan anak muda memenuhi ruas jalan dengan sepeda motor yang meraung-raung. Mereka berkonvoi, mengibarkan bendera, berteriak, dan membunyikan klakson tanpa henti. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Spanyol menjadi pemenangnya.

Yang menarik perhatian saya bukanlah siapa yang menang, melainkan bagaimana kemenangan itu dirayakan. Mereka merayakan keberhasilan sebuah negara yang jelas bukan tanah air mereka sendiri. Dalam euforia itu, sebagian bahkan berkendara secara ugal-ugalan, menciptakan kebisingan dan kemacetan pada jam ketika anak-anak sedang berangkat ke sekolah.

Saya tidak sedang menghakimi mereka. Masa muda memang sering kali membutuhkan panggung untuk mengekspresikan kegembiraan. Barangkali konvoi itu hanyalah luapan emosi yang akan selesai begitu matahari meninggi. Bisa jadi, jika ditanya lebih jauh letak Spanyol di peta dunia atau bagaimana perjalanan tim itu hingga menjadi juara, tidak semua mampu menjawabnya. Bahkan mungkin ada yang sebenarnya bukan pendukung Spanyol. Mereka sekadar menikmati sensasi menjadi bagian dari kerumunan—merasakan adrenalin ketika jalan raya seolah menjadi milik bersama.

Saya memahami perasaan itu.

Saya sendiri sesungguhnya juga menikmati pertandingan-pertandingan besar. Sehari sebelumnya, saya sempat berhenti di kawasan Tugu Religi yang sedang menggelar pesta rakyat. Di salah satu sudut berdiri sebuah videotron besar yang biasanya digunakan untuk iklan. Pagi itu, layar tersebut berubah fungsi menjadi ruang bersama untuk menonton perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris.

Saya datang ketika pertandingan hampir usai. Meski hanya menyaksikan beberapa menit terakhir, saya masih sempat melihat Prancis mencetak satu gol dan Inggris menambah dua gol sebelum akhirnya memastikan kemenangan. Kebetulan saya memang sedang melintas, lalu berhenti sejenak dan ikut larut bersama orang-orang yang bersorak di depan layar. Itulah satu-satunya momen saya menikmati Piala Dunia tahun itu.

Mungkin justru karena hanya sebentar, kenangan itu terasa cukup.

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya kepada diri sendiri mengapa pagi itu saya lebih memilih bersepeda daripada ikut menonton final yang ditunggu jutaan orang. Saya menyadari bahwa ada semacam dorongan dalam diri saya untuk tidak selalu berjalan mengikuti arus. Ketika hampir semua orang sedang demam sepak bola, saya justru ingin mencari jalan yang lebih sunyi. Ketika belakangan ini banyak orang berbondong-bondong menjadikan lari sebagai gaya hidup, saya tetap merasa lebih nyaman mengayuh sepeda atau sekadar berjalan kaki.

Saya tahu kecenderungan itu tidak selalu baik. Keinginan untuk berbeda hanya demi menjadi berbeda bisa berubah menjadi bentuk ego yang tidak perlu. Tidak semua hal yang digemari banyak orang layak ditolak hanya karena sedang menjadi tren. Ada kalanya arus besar memang mengarah ke tempat yang benar.

Namun, saya juga belajar bahwa setiap orang memiliki musimnya sendiri.

Ada orang yang menemukan kebahagiaan di tengah keramaian, ada pula yang justru menemukannya di jalanan yang lengang. Ada yang menikmati sorak-sorai stadion, ada yang lebih menikmati bunyi rantai sepeda yang berputar pelan di pagi hari. Tidak ada yang lebih mulia di antara keduanya.

Bagi saya, kebebasan mungkin sesederhana memiliki keberanian untuk memilih tanpa merasa harus ikut-ikutan. Bukan karena ingin tampak berbeda, melainkan karena saya ingin pilihan itu benar-benar lahir dari diri sendiri. Saya tidak ingin seluruh keputusan saya ditentukan oleh musim, tren, atau kegemaran orang banyak.

Barangkali itulah kemerdekaan yang paling sederhana: ketika kita tetap mampu menikmati dunia, tanpa harus selalu bergerak ke arah yang sama dengan kerumunan.

Populer

Tiga dilupakan

Gergaji baru

Kue pocong

Jejak abadi

Senja teluk

Harga pulang

Anak harapan

Manusia berlomba

Alergi AI

Wedangan kelas menengah