Kue pocong

-(Sabtu, 18 Juli 2026)-

Selain kacang mete, ada satu oleh-oleh khas dari daerah ini yang selalu saya nantikan: gula kelapa. Meski namanya sederhana, bentuknya justru mengundang imajinasi. Ia sejenis jenang atau dodol yang dibungkus dengan kulit jagung, diikat pada bagian tengah dan ujungnya. Dari isi dan rasanya, saya menduga bahan utamanya adalah tepung ketan, gula merah, dan kelapa, meski ada pula yang dibuat dari tepung beras.

Yang membuatnya berkesan bukan hanya rasanya, melainkan juga nama lain yang pernah saya dengar bertahun-tahun lalu. Dalam sebuah percakapan penuh guyon, beberapa orang menyebutnya "kue mayat" atau "kue pocong". Alasannya sederhana sekaligus menggelitik: bungkus kulit jagung yang berwarna pucat, lengkap dengan ikatan di tengah dan ujung, memang mengingatkan pada pocong dalam ukuran mini, cukup kecil untuk digenggam oleh tangan orang dewasa. Julukan itu sama sekali bukan nama resminya, melainkan sekadar humor yang lahir dari cara orang melihat bentuknya.

Terlepas dari nama iseng tersebut, saya benar-benar menyukai rasanya. Kelapanya terasa begitu dominan, tidak sekadar menjadi pelengkap. Saya menduga itu karena daerah ini memang kaya akan pohon kelapa. Bahan yang melimpah membuat kelapa digunakan tanpa perlu berhemat, sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih kaya dibandingkan dodol atau jenang yang biasa saya nikmati di Jawa. Ada rasa yang sulit dijelaskan selain kesan bahwa makanan ini dibuat tanpa rasa tanggung.

Persoalannya muncul ketika nama guyonan itu saya wariskan kepada orang lain. Saya pernah menceritakan tentang "kue mayat" kepada dia, tanpa sempat menjelaskan bahwa itu hanyalah sebutan tidak resmi. Ketika ia berkunjung ke daerah tersebut, ia pun dengan percaya diri bertanya kepada warga setempat tentang kue mayat. Tentu saja orang yang ditanya kebingungan. Baru setelah dia menjelaskan bentuk dan bungkusnya, orang itu tersenyum lalu berkata, "Oh, maksudnya gula kelapa."

Saat mendengar kisah itu, saya tak kuasa menahan tawa. "Kenapa kamu bilang kue mayat?" tanya saya. Ia langsung membalas, "Lho, kan kamu yang bilang begitu." Saya pun akhirnya menjelaskan asal-usul julukan tersebut: bukan nama yang dikenal masyarakat, melainkan sekadar lelucon yang pernah saya dengar bertahun-tahun sebelumnya.

Begitulah, kadang sebuah nama memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Sebuah gurauan yang lahir dari percakapan santai dapat berubah menjadi "pengetahuan" yang dipercaya orang lain. Untungnya, kekeliruan kecil itu berakhir dengan tawa, bukan salah paham yang berkepanjangan. Dan sambil menikmati manisnya gula kelapa—alias, "kue pocong"—saya kembali menyadari bahwa di balik setiap makanan khas, sering kali tersimpan cerita yang tak kalah lezat dibandingkan rasanya.

Populer

Toronipa pensiun

Bokori

Senja teluk

Lansia muda

Harga pulang

Pantun integritas

Temuan pagi

Hobi manusia

Belanja online

Hutan bakau