Bokori
-(Senin, 13 Juli 2026)-
Harus saya akui, sekaligus saya kagumi, ia adalah pribadi yang memiliki kemauan keras. Apa yang sudah menjadi keinginannya akan diperjuangkan sampai tercapai. Tidak banyak orang yang memiliki keteguhan seperti itu.
Siang itu, keinginannya menyeberang ke Pulau Bokori tak mampu saya bendung. Padahal hampir setengah hari kami habiskan di Pantai Toronipa. Saya merasa itu sudah cukup. Namun rupanya ia belum selesai dengan hari itu.
Begitu melihat belokan menuju lokasi penyeberangan, ia langsung meminta saya mengarahkan kendaraan ke sana. Tanpa banyak pertimbangan, kami pun mengikuti dorongan spontan itu. Setibanya di dermaga, sebuah perahu sudah bersiap membawa rombongan. Keputusan diambil dalam hitungan menit. Setelah membeli karcis, kami beruntung bisa langsung naik tanpa harus menunggu lama.
Mungkin memang ada perjalanan yang justru terasa paling berkesan karena tidak lahir dari rencana yang matang. Ia datang begitu saja, mengandalkan keberanian untuk berkata, "Mari kita coba."
Perjalanan menuju Pulau Bokori ternyata singkat. Tak sampai sepuluh menit, perahu kecil itu telah merapat. Di hadapan kami terbentang hamparan pasir putih dan laut yang begitu jernih. Airnya memantulkan cahaya siang seperti kaca yang dihamparkan di atas pasir. Sulit rasanya untuk tidak merasa gembira ketika tiba di tempat yang baru.
Kami berjalan mengelilingi pulau kecil itu. Suasananya hidup. Anak-anak bermain pasir, beberapa pengunjung berenang, sebagian lagi memacu banana boat dan motor boat. Di wajah-wajah mereka tampak kegembiraan yang sederhana, kegembiraan yang tidak membutuhkan alasan rumit. Kami pun larut dalam suasana yang sama.
Karena perjalanan ini benar-benar di luar rencana, kami datang tanpa persiapan. Tidak membawa perlengkapan mandi ataupun pakaian yang memang disiapkan untuk bermain air. Namun justru spontanitas itulah yang membuat pengalaman ini terasa berbeda. Kadang-kadang, yang paling kita nikmati bukanlah perjalanan yang dirancang dengan sempurna, melainkan perjalanan yang memberi ruang bagi kejutan.
Di Toronipa saya masih mampu menahan diri untuk tidak turun ke laut. Namun di Bokori, saya menyerah pada godaan air yang begitu bening. Rasanya sayang jika hanya menjadi penonton.
Akhirnya saya menceburkan diri ke laut. Bukan sekadar berenang, melainkan mengambang. Entah mengapa, mengambang selalu menjadi cara saya berdamai dengan pikiran. Keahlian sederhana itu saya peroleh ketika pernah tinggal di daerah-daerah pesisir. Dengan tubuh yang rileks dan sepenuhnya pasrah pada daya apung air laut, saya bisa berbaring tenang tanpa rasa takut tenggelam. Rasanya seperti meditasi yang dilakukan di atas permukaan air. Laut seolah mengajarkan bahwa ketenangan sering kali lahir bukan karena kita menguasai keadaan, melainkan karena kita percaya untuk menyerahkan diri pada keseimbangannya.
Kami mandi secara bergantian agar tetap ada yang mengawasi barang bawaan. Sesekali kami sama-sama turun ke air, tetapi salah seorang tetap mengarahkan pandangan ke tempat barang-barang kami disimpan. Cara sederhana menikmati liburan tanpa kehilangan kewaspadaan.
Tak terasa sore mulai datang. Kami pun mengakhiri waktu di Pulau Bokori. Sebelum pulang, masih ada satu rencana yang ingin kami wujudkan: duduk di sebuah kafe di tepi laut, menikmati semangkuk sarabba hangat sambil memandang cahaya senja dan bentangan Jembatan Teluk Kendari di kejauhan.
Setelah berganti pakaian, kami menghubungi pengemudi perahu yang tadi mengantar kami. Tak lama kemudian ia datang membawa rombongan baru yang hendak menikmati pulau itu. Setelah mereka turun, kami bersama satu keluarga lainnya naik ke perahu yang sama untuk kembali ke dermaga. Perlahan Pulau Bokori semakin jauh dari pandangan. Saya terus menoleh ke belakang, seolah ingin menyimpan pemandangan itu sedikit lebih lama dalam ingatan.
Hari itu saya kembali belajar bahwa tidak semua keputusan terbaik lahir dari perhitungan yang panjang. Ada kalanya sebuah pengalaman berharga justru berawal dari keberanian mengikuti satu keinginan yang tampak sederhana.
Karena itu, saya berterima kasih kepadanya yang tetap bersikeras mengajak menyeberang ke Pulau Bokori. Seandainya siang itu saya tetap mempertahankan rencana semula, mungkin saya hanya akan pulang membawa cerita tentang Toronipa. Namun berkat keteguhannya, saya pulang dengan satu pengalaman yang jauh lebih kaya—pengalaman yang mengingatkan bahwa sesekali hidup memang layak memberi ruang bagi keputusan-keputusan yang datang secara mendadak.