Gambaran pensiun

-(Minggu, 12 Juli 2026)

Pagi itu kami berangkat menuju pantai terdekat. Namun sebelum melintasi jembatan teluk menuju ke sana, saya membelokkan kendaraan ke sebuah titik yang sudah kami rencanakan untuk didatangi saat senja nanti.

Dari tempat itu, kami membayangkan bisa memandangi bentangan jembatan ketika matahari mulai turun. Jika beruntung, kami akan menikmati matahari terbenam sambil menyeruput sarabba dan menyantap pisang epek. Ketika petang berganti malam, lampu-lampu di jembatan akan menyala, memantulkan cahaya di permukaan laut. Dari sana pula pelabuhan terlihat jelas, dengan kapal-kapal yang beristirahat setelah menempuh perjalanan. Rasanya, tempat itu akan menjadi penutup hari yang sempurna.

Namun, rencana memang sering berubah justru ketika seseorang membuka kemungkinan baru.

Saat kami berdiri memandang sekeliling, pembicaraan kembali mengarah pada pantai yang hendak kami tuju. Tiba-tiba ia mengusulkan sesuatu. Mengapa hari ini tidak sekalian ke pantai yang lebih jauh? Hari itu hari libur, kesempatan yang belum tentu datang lagi dalam waktu dekat. Pantai yang dekat bisa kami kunjungi kapan saja, sementara perjalanan yang lebih panjang membutuhkan waktu yang lebih lapang.

Usul itu terasa masuk akal. Akhirnya kami sepakat mengubah tujuan menuju Pantai Toronipa. Pantai Nambo yang lebih dekat kami simpan untuk kunjungan di pagi atau sore hari pada kesempatan lain.

Perjalanan menuju Toronipa ternyata menghadiahkan pemandangan yang tidak kami duga. Jalan berkelok mengikuti garis pantai, sementara laut sesekali muncul di balik pepohonan, memantulkan cahaya pagi dengan tenang. Pemandangan itu perlahan mengubah perjalanan menjadi ruang percakapan.

Di tengah perjalanan, kami berbicara tentang masa pensiun.

Saya berkata, barangkali seperti inilah nanti hari-hari yang ingin kami jalani. Bukan mengejar tempat sebanyak mungkin, melainkan menikmati setiap kota dengan perlahan. Kami akan datang ke sebuah kota, menyewa guest house selama dua minggu atau sebulan, lalu menjelajahinya tanpa tergesa. Kami akan mengunjungi tempat-tempat wisata, mencicipi kulinernya, menyelami sejarah dan budayanya, mungkin juga menyewa kendaraan agar lebih leluasa bergerak.

Ketika merasa cukup mengenal sebuah kota, kami akan berpindah ke kota berikutnya. Begitu seterusnya.

Bagi saya, perjalanan semacam itu bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah cara mengumpulkan pengalaman, percakapan, pengetahuan, dan perjumpaan dengan banyak manusia. Semua itu akan menjadi bahan baku tulisan-tulisan yang ingin terus saya lahirkan, baik di media maupun, jika Tuhan mengizinkan, dalam bentuk buku. Barangkali, pada akhirnya, pensiun bukanlah berhenti bekerja, melainkan memperoleh kemewahan untuk bekerja hanya pada hal-hal yang benar-benar kita cintai.

Tanpa terasa, percakapan itu mengantar kami tiba di Pantai Toronipa.

Setelah membayar tiket masuk sepuluh ribu rupiah per orang, kami menyusuri kawasan pantai yang dipenuhi gazebo-gazebo sewaan. Kami terus berjalan melewati Toronipa hingga ke kawasan Pantai Nipa-Nipa, mengikuti jalan yang akhirnya berujung buntu.

Di situlah kami berhenti.

Kami duduk menghadap laut yang pagi itu masih surut. Cakrawala membentang bersih, sementara sesekali sebuah perahu kecil melintas dengan seorang nelayan di atasnya. Laut tampak begitu tenang, nyaris tanpa suara.

Namun menjelang siang, saya mulai mendengar deburan ombak yang sebelumnya nyaris tak terdengar. Saya mengamati bibir pantai. Air bergerak perlahan, merayap sedikit demi sedikit ke daratan. Rupanya laut sedang berubah. Air mulai pasang.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa perubahan besar sering kali datang tanpa gegap gempita. Ia bergerak pelan, hampir tak terasa, hingga akhirnya mengubah seluruh lanskap di hadapan kita.

Sebentar lagi air akan meninggi. Pantai akan terlihat lebih hidup. Orang-orang akan berdatangan, sebagian seperti dipanggil oleh laut untuk menceburkan diri, berenang, bermain, dan menikmati kegembiraan yang sederhana. Barangkali memang demikian kebahagiaan bekerja. Ia sering hadir dalam bentuk yang biasa saja, tetapi tetap membutuhkan waktu, kesempatan, dan kadang juga biaya untuk dapat menjangkaunya.

Sementara ia menikmati air laut, saya memilih duduk menunggu sambil menulis catatan ini.

Di tempat sederhana itu, di tepi laut yang perlahan berubah karena pasang, saya merasa sedang melihat sekilas gambaran hari-hari pensiun yang kami impikan: berjalan tanpa tergesa, menikmati perjalanan tanpa harus selalu mengejar tujuan, lalu mengabadikan semuanya dalam tulisan. Mungkin, kelak, itulah cara kami merawat waktu yang akhirnya kembali menjadi milik kami sendiri.

Populer

KUR malam minggu

Pergaulan global

Membaca pikiran

Ikigai hidup

Teknokratis

Gowes teluk

Karya kreatif

Motivator backoffice

Romantisasi lampau

Sinyal perbaikan