Bakar ban
-(Kamis, 2 Juli 2026)-
Dalam sebuah perbincangan di ruang holding setelah acara pembukaan sebuah kegiatan, banyak topik sebenarnya berseliweran dan saling bertukar tempat sebagai pusat perhatian. Begitulah watak percakapan yang cair: tema datang dan pergi mengikuti arus pembicaraan, juga bergantung pada siapa yang sedang menjadi tokoh sentral dalam lingkaran obrolan. Namun, dari sekian banyak topik, ada satu yang terasa paling membekas di benak saya.
Topik itu adalah kebiasaan mahasiswa di kota ini ketika berdemo: membakar ban bekas.
Entah sejak kapan, membakar ban seolah menjadi ritual yang nyaris tak terpisahkan dari aksi demonstrasi. Seakan-akan sebuah demo belum sah tanpa asap hitam yang mengepul ke langit. Dari hampir setiap aksi, selalu ada adegan yang sama: ban diseret ke jalan, disusun, lalu dibakar. Api menyala, asap menebal, lalu lalu lintas pun lumpuh.
Padahal, jika dipikir secara sederhana saja, pembakaran ban jelas membawa dampak yang tidak kecil. Asap hitam yang dihasilkan mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Dalam paparan yang terus-menerus, risikonya tentu tidak bisa dianggap remeh. Belum lagi kemacetan yang hampir selalu menjadi konsekuensi lanjutan. Demonstrasi yang sejatinya ingin menyuarakan aspirasi justru kadang menghadirkan gangguan bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung.
Namun begitulah kenyataan yang berlangsung di daerah ini. Membakar ban seperti telah menjelma menjadi warisan turun-temurun—sebuah tradisi tak tertulis yang diwariskan dari satu generasi mahasiswa ke generasi berikutnya.
Saya membayangkan, para demonstran hari ini barangkali hanya meniru apa yang pernah dilakukan senior-senior mereka dahulu. Mereka melihat pola yang sama, menganggapnya sebagai pakem, lalu mengulangnya tanpa banyak mempertanyakan. Ironisnya, banyak dari para senior itu kini mungkin telah bekerja di pemerintahan, perusahaan swasta, atau lembaga formal lainnya. Bisa jadi, ketika mereka mengingat masa-masa itu, muncul secuil kesadaran: barangkali ada hal-hal yang dulu dilakukan hanya karena dianggap lumrah, bukan karena benar-benar masuk akal.
Di situlah pertanyaan penting muncul: mengapa kebiasaan ini tidak pernah sungguh-sungguh dicoba untuk dihentikan?
Saya kira, diskusi kecil kami di ruang holding itu setidaknya bisa menjadi titik awal untuk memikirkan cara memutus kebiasaan tersebut. Bukan untuk menolak demonstrasi. Sama sekali bukan. Demonstrasi tetap merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Ia adalah ruang bagi warga untuk menyuarakan gagasan, keberatan, kritik, dan tuntutan.
Yang perlu dipikirkan bukan bagaimana menghilangkan demo, melainkan bagaimana menjaga agar demonstrasi tetap berjalan tertib, aman, dan tidak menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan publik.
Salah satu gagasan yang muncul adalah memulai perubahan dari kampus. Kampus, sebagai ruang pembentukan nalar dan kesadaran kritis, semestinya tidak hanya mengajarkan keberanian bersuara, tetapi juga etika dalam menyuarakannya. Perlu ada internalisasi yang lebih serius tentang bagaimana aksi demonstrasi dilakukan secara efektif tanpa harus merugikan orang lain.
Imbauan untuk tidak membakar ban dan tidak mengganggu arus lalu lintas seharusnya terus disampaikan kepada mahasiswa. Bahkan saya membayangkan, pesan-pesan semacam ini dapat menjadi bagian dari keseharian akademik—disampaikan dosen di sela perkuliahan, dibicarakan dalam forum organisasi, atau dijadikan bahan diskusi dalam kegiatan kampus.
Selain itu, edukasi publik juga penting. Pemerintah daerah atau pihak kampus dapat memasang banner, baliho, atau media kampanye yang menjelaskan bahaya asap ban terhadap kesehatan. Ketika informasi tersebar luas, masyarakat pun akan lebih sadar dan mungkin terdorong untuk ikut menegur atau mencegah saat ada upaya pembakaran ban dalam aksi.
Pada akhirnya, obrolan kecil itu berangkat dari satu rasa yang sama: keprihatinan. Keprihatinan bahwa ada kebiasaan yang terus diwariskan tanpa pernah cukup dikritisi, padahal dampaknya nyata bagi kesehatan dan ruang publik.
Lalu saya sampai pada satu pertanyaan yang terdengar jenaka, tetapi sebenarnya cukup menggelitik: apa salah ban sampai setiap demo harus dibakar?
Mengapa yang dibakar selalu ban?
Kenapa bukan ikan, atau daging sate saja? Setidaknya, setelah demonstrasi selesai, semua orang bisa duduk bersama, makan ramai-ramai, dan pulang dengan perut kenyang, bukan paru-paru yang penuh asap.
Tentu itu hanya anekdot—barangkali juga sarkasme kecil. Tetapi kadang, justru dari humor semacam itulah kita bisa melihat absurditas sebuah kebiasaan dengan lebih jernih. Sebab tidak semua tradisi layak diwariskan. Ada yang perlu dirawat, tetapi ada pula yang sebaiknya dihentikan sebelum terus menjadi asap warisan bagi generasi berikutnya.